Program Kesehatan Mental Sekolah dan Keluarga Diperluas untuk Korban Banjir Sumatera

0
Kemendikdasmen
anak-anak sekolah dasar(sd) yang sedang melakukan ucapar. Foto : apkasi.org

NARASIITODAY.COM, JAKARTA – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh telah menimbulkan dampak masif terhadap sektor pendidikan.

Data terbaru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yang dihimpun dari Pusdatin BNPB, mencatat sebanyak 208 ribu siswa terdampak dan 19.000 guru serta tenaga kependidikan mengalami gangguan aktivitas pembelajaran.

Secara infrastruktur, total 326 fasilitas pendidikan dilaporkan mengalami kerusakan, menambah kesulitan bagi para korban untuk kembali menjalani rutinitas belajar mengajar.

Selain kesulitan menjalankan pembelajaran formal, para siswa korban bencana juga menghadapi trauma psikologis dan kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan dasar. Kondisi ini menjadi sorotan utama pakar psikologi kebencanaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Diana Setiyawati S Psi, MHSc, PhD.

Baca Juga :  Catat! Ini Jadwal Libur Sekolah Awal Ramadan 2026

Menurut Diana, dukungan psikososial merupakan upaya mendesak yang perlu diupayakan oleh pemerintah dan relawan.

“Anak-anak bisa merasakan kembali belajar dan bersekolah itu adalah sesuatu yang harus sangat perlu diupayakan,” ujarnya, dikutip dari laman UGM, Kamis (11/12/2025).

Diana menekankan bahwa kesejahteraan siswa dapat terganggu secara signifikan lantaran harus tinggal di barak pengungsian atau tempat yang tidak tetap. Oleh karena itu, penyediaan friendly safe space ruang aman yang mendukung adalah kunci.

Baca Juga :  Diskominfo Kabupaten Bogor Turun ke Sekolah Lewat Program PD Goes to School, Tekankan Bahaya Narkoba hingga Pendidikan Karakter

“Jadi memang perlu upaya kita bersama untuk mengembalikan mereka pada rutinitas dan pemenuhan kebutuhan dasar itu pendukung utama banget untuk well-being para penyintas,” jelas Diana.

Setelah penyediaan ruang fisik yang mendukung pembelajaran, Diana menyarankan pemerintah melakukan pemetaan yang lebih terperinci, khususnya daerah mana saja yang korbannya mengalami dampak psikologis terbesar.

“Pemetaan ini meliputi dimana saja sekolah yang rusak, makanan tidak memadai, serta daerah dengan kematian terbanyak yang menimbulkan beban psikis paling besar,” ungkapnya.

Baca Juga :  Komite Kehakiman DPR Filipina Setujui Bukti Pemakzulan Wakil Presiden Sara Duterte

Dukungan psikososial ini, lanjut Diana, sangat penting diberikan kepada siswa yang menunjukkan kondisi subclinical, yaitu mereka yang terganggu jiwanya seperti mengalami kesulitan dan kesedihan yang mendalam.

“Kami akan membuat program untuk memperkuat kesehatan mental di sekolah, di keluarga, di Primary Health Care untuk mengantisipasi dampak-dampak yang muncul di jangka panjang dan menengah,” tutup Diana, menandakan bahwa penanganan psikologis harus menjadi perhatian serius pasca-bencana.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com