
NARASITODAY.COM, TOKYO – Di bawah gemerlap kota-kota Jepang yang sibuk, sebuah ancaman raksasa sedang menggeliat di kedalaman Palung Nankai. Menanggapi rilis terbaru pemerintah Jepang yang memicu alarm kewaspadaan nasional, Kedutaan Besar China di Tokyo mengeluarkan peringatan darurat bagi warga negaranya untuk segera mengambil tindakan pencegahan terhadap potensi gempa besar (megathrust).
Peringatan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan penilaian risiko terbaru per 31 Maret, kemungkinan terjadinya gempa dahsyat dalam 30 tahun ke depan meningkat tajam dari 70% menjadi 80%. Bayang-bayang tragedi 1946 kini terasa lebih nyata dari sebelumnya.
Skala kerusakan yang diprediksi sangatlah mengerikan. Gempa ini diperkirakan tidak hanya mengguncang satu titik, tetapi melumpuhkan sebagian besar wilayah Jepang.
“Gempa bumi yang berpotensi terjadi dapat berdampak pada wilayah yang luas yang membentang dari Okinawa di barat hingga Fukushima di timur, berpotensi menyebabkan 298.000 kematian dan mengakibatkan kerugian ekonomi hingga US$1,8 triliun,” tulis Kedutaan Besar China dalam pernyataannya yang dikutip dari Global Times, Minggu (4/1/2026).
Pihak Kedutaan juga mengingatkan rekam jejak aktivitas seismik di wilayah tersebut. “Jepang adalah negara yang rentan terhadap gempa bumi yang sering terjadi. Pada bulan Agustus tahun lalu, gempa bumi berkekuatan 7,1 Skala Richter melanda Prefektur Miyazaki di ujung barat Palung Nankai, yang mendorong pemerintah Jepang untuk mengeluarkan peringatan gempa besar,” tambah pihak kedutaan.
Sentuhan gempa-gempa kecil yang terus terjadi belakangan ini seolah menjadi pengingat harian bagi warga. Dalam 24 jam terakhir hingga Selasa sore, tercatat enam gempa bermagnitudo di atas 2,5 mengguncang Jepang, dengan yang terbesar mencapai 4,8 di lepas pantai Hokkaido.
Sebagai bagian dari “Cincin Api” Pasifik, Jepang memikul beban geografis di mana 81% gempa terbesar di dunia terjadi. Trauma nasional atas gempa magnitudo 9,0 pada Maret 2011 yang merenggut hampir 20.000 nyawa masih membekas dalam ingatan kolektif masyarakat.
Menghadapi ketidakpastian ini, Kedutaan Besar China mendesak warganya untuk tidak hanya waspada secara mental, tetapi juga praktis. Warga diminta memantau informasi dengan saksama dan mulai mempertimbangkan faktor risiko saat merencanakan perjalanan, studi, hingga pembelian properti.
Langkah mitigasi mandiri sangat ditekankan:
- Identifikasi lokasi evakuasi terdekat sebelum bencana terjadi.
- Siapkan tas darurat dan pantau rute evakuasi.
- Ikuti instruksi pemerintah lokal tanpa penundaan sedikit pun jika alarm berbunyi.
Kini, di tengah aktivitas harian yang tetap berjalan, warga di sepanjang pesisir dari Okinawa hingga Fukushima hanya bisa bersiap dan waspada, sembari berharap bahwa skenario terburuk itu tidak terjadi dalam waktu dekat.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













