
NARASITODAY.COM, TEHERAN – Pemadaman internet nasional di Iran masih berlangsung lebih dari 36 jam di tengah gelombang protes anti-pemerintah yang semakin meluas. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah otoritas Teheran untuk membatasi arus informasi dan menghambat koordinasi massa di jalanan.
Pemantau internet global Netblocks melaporkan gangguan jaringan berskala nasional terus berlanjut sejak demonstrasi kembali pecah.
“Setelah malam protes lainnya yang direspons dengan represi, metrik menunjukkan pemadaman internet nasional tetap berlaku selama 36 jam,” tulis Netblocks dalam unggahan di platform X, dikutip AFP, Sabtu (10/1/2026).
Aksi demonstrasi yang dipicu anjloknya nilai mata uang rial sejak 28 Desember kini telah menyebar ke seluruh 31 provinsi. Puluhan ribu orang turun ke jalan meski aparat keamanan meningkatkan penindakan. Pemerintah memperluas pemadaman internet dan membatasi komunikasi internasional.
Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia, sedikitnya 65 orang tewas dan lebih dari 2.300 lainnya ditahan selama 12 hari protes berturut-turut. Di kota besar seperti Teheran dan Mashhad, massa meneriakkan slogan anti-pemerintah dan menyerukan perubahan politik.
Pemerintah menegaskan tidak akan mencabut pemadaman internet. Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menuduh demonstran dipengaruhi pihak asing dan berjanji merespons dengan tegas. Kepala peradilan Iran bahkan bersumpah menjatuhkan hukuman “maksimal” bagi peserta demonstrasi.
Tekanan dari luar negeri semakin meningkat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran. Sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan dukungan Washington terhadap rakyat Iran.
Sejumlah maskapai asing, termasuk flydubai dan Turkish Airlines, membatalkan penerbangan ke dan dari Iran, menambah isolasi negara tersebut di tengah krisis.
Di balik layar gelap internet, suara protes tetap bergema. Seruan aksi harian dari tokoh oposisi di pengasingan, Reza Pahlavi, terus menyulut semangat demonstran. Pemadaman internet yang dimaksudkan untuk meredam gejolak justru dinilai memperdalam krisis dan memperkuat perlawanan terhadap pemerintahan ulama di Teheran.
Bagi warga, hilangnya akses internet bukan sekadar hambatan komunikasi, melainkan simbol keterputusan dari dunia luar. Di jalanan, mereka memilih tetap bersuara meski koneksi digital terputus.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













