Gunung Semeru Enam Kali Erupsi, Kolom Abu Capai 1 Kilometer

0
Gunung Semeru
Ilustrasi Awan abu vulkanik dari Semeru Jawa Indonesia. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, LUMAJANG – Pagi hari di lereng Gunung Semeru tidak diawali dengan ketenangan. Sang “Mahameru” yang berdiri gagah setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya yang intens. Sepanjang Senin (19/1/2026), gunung tertinggi di Pulau Jawa ini tercatat mengalami rangkaian enam kali erupsi berturut-turut, mengirimkan kolom abu panas ke langit Jawa Timur.

Rentetan erupsi dimulai sesaat setelah tengah malam, tepatnya pukul 00.22 WIB. Dentuman kecil dari perut bumi terus berlanjut pada pukul 00.36, 00.50, hingga puncaknya terjadi saat fajar menyingsing.

Letusan paling dahsyat dalam rangkaian kali ini tercatat terjadi saat aktivitas warga mulai menggeliat di kaki gunung.

Baca Juga :  Unggul Mana? 5 Perbandingan Menarik Antara Chrome dan Edge di Tahun 2025

Erupsi dengan letusan tertinggi terjadi pada pukul 05.19 WIB yakni dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1.000 meter di atas puncak atau 4.676 mdpl,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto dalam laporan tertulisnya.

Abu vulkanik berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dilaporkan tertiup angin ke arah timur laut. Pemandangan puncak yang biasanya memikat para pendaki kini tertutup tabir abu, menjadi pengingat nyata akan kekuatan alam yang sedang tidak stabil.

Bukan hanya letusan yang terlihat secara visual, perut Semeru pun terus bergetar. Dalam periode pengamatan pukul 00.00-06.00 WIB, tercatat terjadi 36 kali gempa letusan dengan amplitudo berkisar antara 12-22 mm.

Baca Juga :  Kemen PPPA Kawal Kasus Dugaan Pemerkosaan Remaja di Sampang, Pastikan Korban Dapat Perlindungan Menyeluruh

Liswanto juga memaparkan adanya aktivitas seismik lainnya yang menunjukkan gunung ini sedang “gelisah”.

Gunung Semeru juga mengalami 3 kali Harmonik dengan amplitudo 10-11 mm, dan lama gempa 118-360 detik, kemudian 1 kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 7 mm,” ujarnya.

Saat ini, Semeru masih bertahan pada Status Siaga (Level III). Hal ini berarti ancaman bahaya masih sangat nyata, terutama bagi mereka yang nekat mendekati zona merah.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan peringatan keras agar masyarakat mengosongkan sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan. Jarak 13 km dari puncak harus steril dari aktivitas apa pun.

Baca Juga :  5 Perilaku Tetangga yang Jadi Red Flags, Harus Kamu Sadari Sekarang

Liswanto mengingatkan bahwa bahaya tidak hanya datang dari atas, tapi juga dari aliran sungai yang berhulu di puncak.

“Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak,” tegasnya.

Selain Besuk Kobokan, kewaspadaan tinggi juga diarahkan pada jalur Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Masyarakat diminta tetap tenang namun waspada, mengingat radius 5 km dari kawah merupakan zona rawan lontaran batu pijar yang bisa mematikan.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber