NARASITODAY.COM, DATARAN TINGGI GOLAN – Di tengah ketegangan geopolitik yang menyelimuti perbatasan Suriah dan wilayah pendudukan, sebuah insiden ganjil mencoreng citra militer Israel. Alih-alih menjalankan misi taktis, sejumlah oknum tentara dari Batalyon Brigade Golan dilaporkan mencuri 250 ekor kambing milik petani Suriah dan menyelundupkannya lintas perbatasan.
Insiden yang terjadi pada awal Januari ini menjadi sorotan setelah media lokal, Channel 12 Israel, membongkar detail operasi yang lebih mirip penjarahan ternak daripada misi militer.
Kejadian bermula saat pasukan elit tersebut melakukan operasi di wilayah Suriah. Namun, pantauan di lapangan menunjukkan pemandangan yang tak lazim bagi unit tempur: para tentara tampak sedang menggiring ratusan kambing.
Berdasarkan laporan Middle East Eye, hewan-hewan tersebut kemudian diangkut ke truk yang telah disiapkan. Rencana awal untuk membawa ternak tersebut masuk ke wilayah Israel pun dibatalkan secara mendadak. Sebagai gantinya, sekawanan ternak tersebut justru dikirim ke berbagai pertanian di pos-pos terpencil ilegal yang tersebar di Tepi Barat, Palestina.
Para petani Suriah baru menyadari kehilangan mata pencaharian mereka keesokan harinya. Saat matahari terbit, mereka hanya menemukan sisa-sisa ternak yang berkeliaran di jalanan, sebelum akhirnya melaporkan pencurian tersebut kepada pihak otoritas yang memicu penyelidikan internal militer.
Skandal ini tidak hanya memicu masalah hukum, tetapi juga risiko kesehatan. Sekitar 200 ekor kambing yang dicuri dilaporkan masih berkeliaran di Israel dan Tepi Barat tanpa tanda identitas maupun vaksinasi, sementara sisanya masih tersebar di wilayah Suriah.
Menanggapi tindakan indisipliner ini, militer Israel mengambil langkah tegas. Komandan batalyon diberhentikan dari tugasnya, komandan kompi menerima teguran keras, dan seluruh tim yang terlibat dalam aksi tersebut diskors untuk jangka waktu tertentu.
Insiden pencurian ternak ini terjadi di tengah ambisi ekspansi Israel di Dataran Tinggi Golan yang telah diduduki sejak 1967. Pasca-runtuhnya rezim Bashar Al-Assad pada Desember 2024, Israel kian agresif mencaplok zona penyangga PBB yang sebelumnya menjadi pemisah kedua negara.
Sejak perubahan peta politik di Suriah tersebut, aktivitas militer Israel meningkat tajam. Tercatat lebih dari 1.000 serangan udara dan 400 penyusupan darat telah dilakukan, menciptakan kondisi di mana batas antara operasi keamanan dan tindakan penjarahan seperti pencurian ternak menjadi semakin kabur di mata dunia internasional.***
Sumber : cnnindonesia.com














