NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Di balik gemerlap statusnya sebagai kekuatan ekonomi nomor satu dunia, Amerika Serikat kini tengah berjuang melawan bayang-bayang utangnya sendiri. Memasuki lima bulan pertama tahun fiskal 2026, Washington mencatatkan angka defisit yang mengejutkan, yakni mencapai US$1 triliun atau setara dengan Rp16.865 triliun.
Angka ini bukan sekadar deretan nol di atas kertas. Sebagai gambaran, beban bunga utang yang harus dibayar AS dalam periode singkat ini saja sudah melampaui total perkiraan bunga utang negara berkembang seperti Indonesia untuk setahun penuh (Rp599,44 triliun).
Arloji Utang yang Terus Berdetak
Laporan terbaru dari Congressional Budget Office (CBO) hingga Februari 2026 menunjukkan betapa cepatnya laju pinjaman Negeri Paman Sam. Hanya dalam satu bulan terakhir, pemerintah AS membukukan tambahan utang sebesar US$308 miliar.
Lonjakan ini merupakan bagian dari tren pendakian yang mengkhawatirkan:
- Januari 2026: US$38,5 triliun (naik 2,7% hanya dalam satu bulan).
- 2025: US$37,6 triliun.
- 2024: US$33,2 triliun.
Fenomena ini menempatkan kondisi fiskal AS kembali di bawah lensa mikroskop global. Pembengkakan utang terjadi secara agresif di tengah belanja pemerintah yang terus meroket, menciptakan siklus pinjaman yang seolah tak berujung.
Tagihan Bunga yang Mencekik
Meningkatnya tumpukan utang secara otomatis menyeret beban bunga ke level yang lebih tinggi. Sejak dimulainya tahun fiskal 2026 pada 1 Oktober 2025 hingga Februari lalu, Kementerian Keuangan AS telah menggelontorkan total US$433 miliar atau sekitar Rp7.302,55 triliun hanya untuk membayar kewajiban bunga bersih utang publik.
Jumlah tersebut melonjak US$31 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. CBO memberikan penjelasan teknis di balik fenomena “tagihan mahal” ini.
“Kenaikan beban bunga ini terjadi karena total utang pemerintah kini lebih besar dibandingkan tahun lalu, sementara suku bunga jangka panjang juga masih berada di level lebih tinggi,” tulis CBO dalam laporan bulanannya.
Meskipun penurunan suku bunga jangka pendek sempat memberikan sedikit ruang napas dan menahan laju kenaikan pembayaran secara keseluruhan, beban fiskal AS tetap berada pada titik didih.
Dengan total utang yang kini mendekati angka psikologis baru, tantangan Washington bukan lagi sekadar mengelola ekonomi, melainkan memastikan tumpukan surat utang tersebut tidak meruntuhkan struktur finansial mereka sendiri.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













