NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Cuaca ekstrem yang melanda Amerika Serikat pekan lalu tidak hanya menyelimuti jalanan dengan salju tebal, tetapi juga membawa dampak dingin bagi statistik ketenagakerjaan. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan lonjakan klaim tunjangan pengangguran yang melampaui prediksi para analis.
Berdasarkan data yang dirilis Kamis (5/2/2026), klaim awal tunjangan pengangguran negara bagian naik sebanyak 22.000 menjadi 231.000 (disesuaikan secara musiman) untuk pekan yang berakhir pada 31 Januari. Angka ini secara signifikan lebih tinggi dari proyeksi ekonom yang disurvei Reuters di level 212.000.
Antara Badai dan “Low Hire, Low Fire”
Para analis menilai badai salju lebat dan suhu membeku di pengujung Januari menjadi faktor utama yang memicu kehilangan pekerjaan sementara di berbagai wilayah. Meski demikian, di balik angka yang membengkak tersebut, fondasi pasar tenaga kerja Paman Sam dinilai masih cukup tangguh.
Kondisi saat ini digambarkan oleh para ekonom berada dalam fase “low hire, low fire”. Fenomena ini menunjukkan tingkat perekrutan dan pemutusan hubungan kerja yang sama-sama rendah, meski beberapa raksasa korporasi seperti UPS dan Amazon baru-baru ini mengumumkan langkah PHK.
Stagnasi ini diduga berakar pada dua faktor utama:
- Ketidakpastian Global: Dampak kebijakan tarif impor yang masih membayangi.
- Transformasi Teknologi: Meningkatnya adopsi Kecerdasan Buatan (AI) yang membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam menambah staf baru demi mengalihkan sumber daya ke teknologi.
Outlook Ekonomi dan Suku Bunga
Terlepas dari lonjakan klaim pekan lalu, optimisme masih menyelimuti prospek pertumbuhan lapangan kerja tahun ini, didorong oleh kebijakan pemangkasan pajak yang diharapkan mampu memacu belanja konsumen.
Di sisi lain, jumlah penerima tunjangan berkelanjutan juga mengalami kenaikan 25.000 menjadi 1,844 juta orang pada pekan yang berakhir 24 Januari. Namun, data ini dipastikan tidak akan memengaruhi laporan nonfarm payrolls Januari yang dijadwalkan rilis Rabu pekan depan setelah sempat tertunda akibat government shutdown.
Ekonom memproyeksikan adanya penambahan sekitar 70.000 lapangan kerja baru dengan tingkat pengangguran stabil di angka 4,4%. Stabilitas ini diprediksi akan membuat Federal Reserve tetap tenang. Bank sentral AS tersebut diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%–3,75% setidaknya hingga pertengahan tahun 2026.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














