China Catat Angka Kelahiran Terendah Sepanjang Sejarah, Krisis Demografi Kian Dalam

0
ICU
Ilustrasi kaki bayi. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, BEIJING – Gedung-gedung pencakar langit yang terus tumbuh dan angka ekspor yang melambung, China tengah menghadapi “musim dingin” demografi yang kian membeku. Data terbaru menunjukkan bahwa Negeri Tirai Bambu ini sedang menyusut dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, menciptakan bayang-bayang kelabu bagi masa depan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.

Biro Statistik Nasional China (NBS) merilis angka yang mengejutkan pada Selasa (20/1/2026). Angka kelahiran pada 2025 terjun bebas ke level 5,63 per 1.000 penduduk titik terendah dalam sejarah negara tersebut. Angka ini menghapus harapan tipis yang sempat muncul pada 2024 dan mengonfirmasi bahwa tren penurunan populasi sejak 2016 belum bisa dibendung.

Negara yang Kian Menua Sepanjang tahun 2025, hanya ada 7,92 juta tangis bayi yang terdengar, sementara 11,31 juta jiwa berpulang. Selisih ini membuat populasi China berkurang 3,39 juta orang. Kini, satu dari empat penduduk China telah berusia di atas 60 tahun. Fenomena “menua sebelum kaya” ini menjadi hantu nyata bagi produktivitas domestik.

Baca Juga :  Petani Kedelai AS Terancam Krisis, China Tak Lakukan Pemesanan Jelang Panen

Pemerintah Beijing sebenarnya telah mengucurkan berbagai stimulus, mulai dari bonus tunai hingga sekolah gratis. Namun, bagi generasi muda China, beban biaya hidup dan ketidakpastian kerja jauh lebih berat daripada insentif yang ditawarkan. Yi Fuxian, ahli demografi dan ilmuwan senior di Universitas Wisconsin-Madison, menyoroti dampak jangka panjang dari fenomena ini terhadap konsumsi domestik.

“Anak-anak adalah ‘konsumen super’. Dengan angka kelahiran yang sangat rendah, permintaan domestik China kemungkinan akan tetap lemah,” ujar Yi Fuxian sebagaimana dikutip dari CNN International.

Baca Juga :  Eksplorasi 5 Fakta Pokok tentang Potsdam, Surga Istana dan Sejarah Prusia

Ekonomi yang Masih Bertahan Kontras dengan krisis kependudukannya, mesin ekonomi China rupanya masih mampu menderu. Produk Domestik Bruto (PDB) China tercatat tumbuh 5% pada 2025, memenuhi target ambisius pemerintah. Keajaiban ini sebagian besar ditopang oleh ekspor yang mencapai surplus fantastis sebesar US$1,2 triliun, meski harus bertarung di tengah badai tarif perdagangan dengan Amerika Serikat.

Kepala Biro Statistik Nasional China, Kang Yi, memberikan apresiasi atas ketangguhan ekonomi negaranya di tengah himpitan masalah global.

“Pada 2025, ekonomi China mampu menahan tekanan dan mempertahankan kemajuan yang stabil, mencapai hasil baru dalam pembangunan berkualitas tinggi,” kata Kang dalam konferensi pers di Beijing.

Baca Juga :  Wakil Indonesia Tampil di Hari Kedua Thailand Open 2026, Anthony Ginting Jadi Sorotan

Namun, di balik angka 5% tersebut, keretakan mulai terlihat. Penjualan ritel domestik lesu, dan sektor properti yang dulu menjadi primadona kini anjlok hingga 17,2%. Ekonomi China seolah sedang berjalan dengan satu kaki yang kuat di pasar internasional, sementara kaki domestiknya mulai melemah akibat menyusutnya jumlah penduduk.

Dengan PBB memproyeksikan separuh penduduk China akan berusia senja pada tahun 2100, Beijing kini berkejaran dengan waktu. Maret mendatang, target ekonomi baru akan ditetapkan, namun tantangan sesungguhnya bukan lagi sekadar angka di atas kertas, melainkan bagaimana meyakinkan generasi mudanya bahwa masa depan masih cukup cerah untuk membesarkan seorang anak.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com