NARASITODAY.COM, JAKARTA – Kasus virus Nipah yang kembali ditemukan di India belakangan ini menarik perhatian dunia, termasuk Indonesia. Penyakit menular ini dikenal berisiko tinggi karena dapat menyebabkan infeksi serius dengan tingkat kematian yang cukup besar. Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk menangani virus Nipah.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan bahwa penularan virus Nipah umumnya terjadi melalui hewan, terutama babi dan kelelawar buah. Dari keduanya, kelelawar buah disebut sebagai sumber penularan yang paling sering. Virus dapat berpindah ke manusia saat seseorang mengonsumsi buah atau produk pangan yang terkontaminasi air liur atau urine kelelawar yang terinfeksi.
Dengan pola penularan tersebut, ada beberapa kelompok yang dinilai lebih rentan tertular virus Nipah. Di antaranya adalah peternak babi dan pekerja di lingkungan peternakan, serta masyarakat yang kerap mengonsumsi nira atau buah-buahan yang berisiko terpapar kelelawar buah.
Selain itu, tenaga kesehatan juga menjadi kelompok yang perlu waspada, terutama saat merawat pasien yang terinfeksi. Begitu pula dengan anggota keluarga atau kerabat yang terlibat langsung dalam perawatan pasien, karena berpotensi terpapar melalui kontak erat.
Anak-anak pun termasuk kelompok rentan. Risiko infeksi bisa meningkat ketika anak mengonsumsi buah yang terjatuh di tanah atau tanpa disadari sudah terkontaminasi. Karena itu, pengawasan orang tua terhadap kebersihan makanan dan lingkungan bermain anak menjadi sangat penting.
Meski berbahaya, IDAI menegaskan bahwa virus Nipah tidak menular seagresif beberapa penyakit lain seperti ebola. Penularannya membutuhkan kontak tertentu, sehingga pencegahan masih sangat mungkin dilakukan dengan menjaga kebersihan, memastikan makanan aman dikonsumsi, serta menerapkan prosedur perlindungan diri, terutama bagi tenaga kesehatan.
Kewaspadaan sejak dini dan edukasi masyarakat menjadi kunci agar risiko penyebaran virus Nipah dapat ditekan, sekaligus mencegah kepanikan berlebihan di tengah masyarakat. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : detikHealth














