NARASITODAY.COM, NEW DELHI – Harapan akan tercapainya kesepakatan dagang yang mulus antara India dan Amerika Serikat mendadak sirna. Pemerintah India secara mengejutkan membatalkan rencana kunjungan tim negosiator perdagangan mereka ke Washington D.C., sebuah langkah drastis yang dipicu oleh manuver tak terduga Presiden Donald Trump di Gedung Putih.
Langkah ini diambil menyusul keputusan sepihak Trump untuk kembali mematok tarif impor tinggi, hanya berselang beberapa jam setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan serupa pada Jumat pekan lalu karena dinilai ilegal. Trump membalas kekalahan hukum tersebut dengan menggunakan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan 1974 untuk memberlakukan tarif impor global sebesar 10%, yang kemudian melonjak menjadi 15%.
Agenda yang Berantakan
Padahal, Kepala Negosiator India, Darpan Jain, dan timnya semula dijadwalkan memulai perundingan krusial selama tiga hari di AS pada akhir pekan ini. Pertemuan tatap muka dengan Duta Besar Jamieson Greer dari kantor Perwakilan Perdagangan AS (USTR) sejatinya merupakan langkah final untuk memformalkan teks hukum perjanjian kedua negara.
Seorang sumber internal mengungkapkan bahwa kedua belah pihak kini berada dalam posisi siaga untuk mengevaluasi dampak kebijakan baru ini.
“Pertemuan akan dijadwalkan ulang pada tanggal yang disepakati bersama, di mana India dan AS berpendapat bahwa kunjungan tersebut harus dilakukan setelah masing-masing pihak memiliki waktu untuk mengevaluasi perkembangan terbaru beserta implikasinya,” ungkap sumber tersebut kepada CNBC pada Minggu waktu setempat.
Kesepakatan yang Terancam Kandas
Ketegangan ini merusak “pemanis” yang sebelumnya telah disusun. India saat ini masih terbebani tarif timbal balik sebesar 25%, yang seharusnya dipangkas menjadi 18% berdasarkan kesepakatan sementara awal bulan ini. Namun, kebijakan terbaru Trump secara otomatis merobek dasar kesepakatan tersebut.
Sesuai dengan pernyataan bersama yang dirilis pada 6 Februari lalu, kedua negara memiliki hak untuk memodifikasi komitmen jika terjadi perubahan tarif sepihak. Mantan negosiator perdagangan India, Ajay Srivastava, menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi India kini jauh lebih berat.
“Namun, negosiasi tarif 18% tersebut didasarkan pada premis manfaat tertentu yang kini telah hilang, sehingga sekarang kedua pihak harus memikirkan kembali strategi mereka dan AS harus menghadapi isu-isu yang lebih mendesak,” tegas Srivastava, yang juga pendiri Global Trade Research Initiative.
Maret yang Penuh Ketidakpastian
Sebelum badai tarif ini menerjang, Menteri Perdagangan India, Piyush Goyal, sempat optimis bahwa perjanjian perdagangan sementara kemungkinan besar akan ditandatangani pada Maret dan mulai diimplementasikan pada April mendatang.
Kini, optimisme itu tertutup awan mendung. Dengan tarif tambahan 15% di atas tarif most-favored-nation (sekitar 2-3%), India dan mitra dagang AS lainnya dipaksa masuk ke dalam ruang ketidakpastian ekonomi global yang baru. Hingga saat ini, Kementerian Perdagangan dan Industri India belum memberikan komentar resmi lebih lanjut mengenai kapan negosiasi akan kembali dimulai.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














