NARASITODAY.COM, BUDAPEST – Musim dingin yang belum usai, ketegangan antara Budapest dan Kyiv justru kian membara. Pipa Druzhba jalur pipa minyak terbesar di dunia yang bermakna “Persahabatan” kini justru menjadi sumber keretakan baru. Hungaria secara resmi menyatakan akan menyandera rencana pinjaman raksasa Uni Eropa (UE) senilai 90 miliar euro (sekitar Rp1.780 triliun) untuk Ukraina hingga aliran minyak Rusia ke negaranya kembali normal.
Langkah ini diambil menyusul berhentinya pasokan minyak melalui pipa Druzhba sejak 27 Januari lalu, yang menurut laporan terjadi akibat serangan drone Rusia di wilayah Ukraina yang merusak infrastruktur tersebut.
Menteri Luar Negeri Hungaria, Péter Szijjártó, menuding Kyiv sengaja menggunakan isu energi sebagai alat tekanan politik. Dalam sebuah pernyataan melalui media sosial, ia menegaskan bahwa Budapest tidak akan tinggal diam atas gangguan pasokan yang melanda Hungaria dan Slovakia.
“Kami tidak akan menyerah pada pemerasan ini. Kami tidak mendukung perang Ukraina dan kami tidak akan membiayainya,” ujar Szijjártó, seperti dikutip The Associated Press, Senin (23/2/2026).
Ancaman ini berpotensi melumpuhkan fasilitas pinjaman tanpa bunga yang seharusnya ditujukan untuk menyokong kebutuhan militer dan ekonomi Ukraina selama dua tahun ke depan.
“Selama Ukraina memblokir dimulainya kembali pasokan minyak ke Hungaria, Hungaria akan memblokir keputusan Uni Eropa yang penting dan menguntungkan bagi Ukraina,” tambah Szijjártó.
Efek Domino Energi di Eropa Tengah
Hungaria dan Slovakia merupakan sedikit dari negara UE yang masih memiliki pengecualian untuk mengimpor minyak Rusia karena ketergantungan infrastruktur yang tinggi. Sebagai balasan atas tersendatnya pasokan minyak, kedua negara tersebut telah menghentikan pengiriman solar ke Ukraina pekan ini.
Tekanan juga datang dari Bratislava. Perdana Menteri Slovakia, Robert Fico, mengancam akan memutus pasokan listrik darurat ke Ukraina. Langkah serupa tengah dipertimbangkan oleh pemerintah Viktor Orbán melalui kepala stafnya, Gergely Gulyás.
Ketergantungan yang Menjadi Dilema
Di saat mayoritas negara Eropa telah beralih dari energi Moskow sejak invasi 2022, Hungaria tetap bersikukuh bahwa energi fosil Rusia adalah napas bagi perekonomian mereka. Meski analis energi Eropa menyebut diversifikasi mungkin dilakukan, PM Viktor Orbán berulang kali menyatakan bahwa penghentian mendadak akan memicu guncangan ekonomi nasional.
Di sisi lain, Ukraina membantah adanya motif politik di balik keringnya pipa Druzhba. Kyiv menegaskan bahwa gangguan tersebut murni disebabkan oleh faktor keamanan dan kerusakan infrastruktur akibat serangan udara di zona perang.
Kini, nasib bantuan dana untuk Ukraina berada di ujung tanduk, menanti konsensus dari 27 negara anggota UE di tengah ancaman veto dari Budapest yang kian keras.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













