5 Fakta Menarik Kue Kering Lebaran yang Jarang Diketahui

0
Kue Kering Lebaran. Foto: dok Pinterest

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Kue kering menjadi salah satu sajian yang hampir selalu hadir saat perayaan Hari Raya Idul Fitri. Selain hidangan utama, aneka kue kering turut memeriahkan suasana Lebaran sebagai suguhan bagi tamu yang datang berkunjung. Kehadiran kue-kue ini ternyata memiliki sejarah panjang hingga akhirnya menjadi bagian dari tradisi.

Setiap tahun, berbagai kreasi kue Lebaran modern terus bermunculan. Meski begitu, kue kering klasik seperti nastar, kastengel, dan putri salju tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia.

Bagi banyak orang, kue-kue tersebut bukan sekadar camilan. Rasanya yang khas sering kali mengingatkan pada kenangan masa kecil dan menghadirkan kembali suasana hangat di rumah saat Lebaran.

Kue kering tradisional juga telah menjadi bagian dari budaya perayaan Idul Fitri yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di balik popularitasnya, terdapat sejumlah fakta menarik mengenai sejarah kue kering yang mungkin belum banyak diketahui.

Baca Juga :  Resep Mudah Grape Coconut Cookies: Camilan Spesial untuk Menambah Keberkahan di Hari Raya

Berikut lima fakta menarik tentang sejarah kue kering Lebaran di Indonesia.

1. Berasal dari Persia
Sebelum dikenal luas di berbagai negara, kue kering pertama kali ditemukan di wilayah Persia, yang kini dikenal sebagai Iran. Catatan sejarah menyebutkan bahwa kue kering muncul sekitar abad ke-7 dan tercipta secara tidak sengaja.

Pada masa itu, para pembuat roti menghadapi kesulitan dalam mengatur suhu oven. Untuk menguji panas oven, mereka menjatuhkan sedikit adonan ke dalamnya. Adonan kecil yang dipanggang tersebut kemudian dianggap sebagai bentuk awal dari kue kering.

2. Pernah menjadi kudapan mewah di Eropa
Di Eropa, kue kering awalnya dikenal sebagai makanan mewah yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan. Penyebarannya ke berbagai negara juga tidak lepas dari peran para pedagang muslim.

Kue kering diyakini pertama kali populer di Spanyol ketika wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Muslim. Seiring waktu, kue ini tidak lagi terbatas untuk kalangan kerajaan dan mulai dinikmati oleh masyarakat luas.

Baca Juga :  Jilbab hingga Tradisi Lebaran Resmi Dilarang di Tajikistan, Pelanggar Terancam Denda Puluhan Juta

3. Produksinya sempat dikontrol ketat
Pada awalnya, kue kering diproduksi secara rumahan dengan berbagai variasi resep. Namun, perkembangan teknologi pada abad ke-17 hingga ke-19 membuat produksi kue meningkat secara besar-besaran.

Saat itu, pembuatan kue juga diawasi oleh asosiasi profesional untuk menjaga kualitasnya. Sejak saat itu pula, kue kering semakin populer dan menjadi sajian penting dalam berbagai perayaan di Eropa maupun Amerika.

4. Masuk ke Indonesia pada masa kolonial
Kue kering mulai dikenal di Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Salah satu jenis kue yang diperkenalkan pada masa tersebut adalah nastar.

Nama nastar sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu “ananas” yang berarti nanas dan “taart” yang berarti pai atau tart. Awalnya, isian nastar bukanlah selai nanas, melainkan blueberry. Namun karena buah tersebut sulit ditemukan di Indonesia, masyarakat kemudian menggantinya dengan nanas.

Baca Juga :  Kerja Keras di Usia Muda, 5 Dampak yang Bikin Hidup Tak Seimbang

5. Mengalami adaptasi dengan cita rasa lokal
Seiring waktu, masyarakat Indonesia mulai mengembangkan kue kering dengan menyesuaikan bahan dan selera lokal. Teknik pembuatan dari Eropa dipadukan dengan bahan yang mudah ditemukan di Indonesia.

Dari proses adaptasi inilah lahir berbagai kue Lebaran yang kini sangat identik dengan tradisi Indonesia, seperti nastar dengan isian selai nanas serta putri salju yang berbentuk bulan sabit dengan taburan gula halus.

Kini, kue kering tidak hanya berfungsi sebagai camilan, tetapi juga menjadi simbol keramahan saat menyambut tamu di hari raya. Tradisi menyajikan kue kering dalam stoples pun mulai populer sejak abad ke-20 karena praktis dan dapat bertahan lama selama perayaan Lebaran berlangsung. (MG5)

Editor : Nathania

Sumber : detikfood