NARASITODAY.COM,OTTAWA – Gelombang permohonan kewarganegaraan Kanada dari warga Amerika Serikat (AS) melonjak drastis menyusul perubahan aturan garis keturunan yang kini lebih inklusif. Di tengah polarisasi politik dan ketidakpastian sosial di Negeri Paman Sam, paspor Kanada kini bukan sekadar dokumen perjalanan, melainkan sebuah “asuransi masa depan” bagi jutaan orang.
Fenomena ini dipicu oleh putusan pengadilan Kanada tahun 2023 yang membatalkan pembatasan kewarganegaraan generasi pertama karena dinilai tidak konstitusional. Melalui Amandemen RUU C-3 yang mulai berlaku Desember lalu, warga Kanada yang lahir di luar negeri kini dapat mewariskan status kewarganegaraan kepada anak-anak mereka, meskipun sang anak juga lahir di luar wilayah Kanada.
Lonjakan Sepuluh Kali Lipat
Dinamika ini terkonfirmasi dari meja para konsultan imigrasi. Cassandra Fultz, konsultan imigrasi yang berbasis di Ottawa, mengungkapkan bahwa minat warga AS untuk menyeberang ke utara telah mencapai level yang belum pernah terlihat dalam hampir dua dekade.
“Ada peningkatan minat yang sangat stabil untuk pindah ke Kanada sejak November 2024, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saya belum pernah melihat ini dalam 17 tahun saya di industri ini,” kata Fultz, seperti dikutip dari CNN International, Selasa (31/3/2026).
Data dari Perpustakaan dan Arsip Nasional Québec memperkuat tren ini: permintaan dokumen leluhur dari warga AS meroket dari hanya 100 permintaan pada Februari 2025 menjadi 1.500 permintaan pada periode yang sama tahun ini. Saat ini, terdapat antrean lebih dari 50.900 pemohon dengan waktu proses mencapai 10 bulan.
Pelarian dari Polarisasi
Bagi banyak pemohon, motivasi mereka berakar pada kekecewaan terhadap iklim domestik AS. Ellen Robillard (52), seorang warga New York, adalah salah satu yang langsung mengajukan permohonan bersama putranya segera setelah aturan baru disahkan.
“Saya benar-benar tidak mengenali dunia saya lagi,” ujar Robillard, merujuk pada tekanan mental dan ancaman yang ia terima akibat aktivitas politiknya. Baginya, Kanada adalah sekoci penyelamat. “Jika keadaan mulai memburuk di sini dengan ekonomi kita, saya tahu bahwa saya bisa langsung pergi. Itu tetap menjadi pilihan,” tambahnya.
Sentimen serupa dirasakan oleh Rachel Rabb (34), warga AS yang kini menetap di Amerika Latin. Setelah menemukan garis keturunan dari nenek buyutnya, ia merasa mendapatkan peluang emas di tengah situasi keamanan AS yang ia anggap mencekam.
“Sungguh anugerah menemukan bahwa saya memiliki leluhur Kanada, mengingat iklim politik saat ini. Ini adalah masa yang sangat menakutkan saat ini karena siapa pun bisa menjadi sasaran,” ungkap Rachel.
Pro dan Kontra di Tanah Kanada
Meski disambut antusias oleh para pemohon, kebijakan ini tak lepas dari kritik di dalam negeri Kanada. Sebagian warga khawatir pelonggaran ini hanya menguntungkan “warga asing” yang tidak memiliki ikatan emosional maupun kontribusi nyata terhadap Kanada.
Namun, Cassandra Fultz menangkis anggapan tersebut dengan menekankan aspek keadilan dan potensi ekonomi.
“Pada dasarnya, warga negara Kanada tetaplah warga negara Kanada. Ini tentang meningkatkan kesetaraan,” tegas Fultz. Ia menambahkan bahwa mayoritas pemohon adalah individu berpendidikan tinggi. “Ini adalah hal yang baik untuk Kanada dan warga Kanada. Mereka benar-benar seperti sepupu kami.”***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














