NARASITODAY.COM, PYONGYANG – Di balik gerbang besi Pyongyang yang mulai kembali terbuka bagi dunia luar, sebuah komitmen besar baru saja dideklarasikan. Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, secara resmi menyatakan dukungan penuhnya terhadap ambisi China dalam membangun tatanan “dunia multipolar” guna mengakhiri dominasi kekuatan tunggal negara tertentu.
Pernyataan tersebut disampaikan Kim saat menerima kunjungan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, di Pyongyang pada Jumat (10/4/2026). Pertemuan ini bukan sekadar seremoni diplomatik biasa tapi ini adalah pesan tegas di tengah lingkungan geopolitik yang kian memanas.
Menghapus Dominasi Tunggal
Dalam suasana pertemuan yang khidmat namun strategis, Kim Jong Un menekankan bahwa pengembangan hubungan berkelanjutan antara kedua negara kini menjadi jauh lebih krusial.
“Masalah global saat ini merupakan kepentingan bersama. Memastikan pengembangan hubungan yang berkelanjutan antara kedua negara menjadi lebih penting dalam lingkungan geopolitik saat ini,” lapor KCNA, kantor berita resmi Korea Utara.
Kim juga menegaskan posisi pemerintahnya yang sepenuhnya mendukung integritas teritorial Beijing melalui “prinsip satu China”. Langkah ini mengukuhkan pengakuan Pyongyang bahwa Taiwan adalah bagian tak terpisahkan dari wilayah China, sebuah posisi yang kerap memicu gesekan dengan pihak Barat.
Fase Baru Hubungan Diplomatik
Menteri Luar Negeri Wang Yi, yang melakukan kunjungan pertamanya ke Pyongyang dalam tujuh tahun terakhir, membalas hangat pernyataan Kim. Ia menyebutkan bahwa hubungan antara Beijing dan Pyongyang kini telah memasuki “fase baru” yang lebih praktis.
“Dalam menghadapi situasi internasional yang bergejolak dan kompleks, China dan Korea Utara harus lebih memperkuat komunikasi dan koordinasi dalam urusan internasional dan regional utama,” ujar Wang Yi dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China.
Wang menambahkan bahwa China siap memperkuat pertukaran strategis untuk mendorong kerja sama yang nyata, mulai dari pemulihan jalur transportasi hingga isu-isu keamanan regional.
Langkah diplomasi Kim Jong Un belakangan ini menunjukkan pola yang konsisten: merangkul sekutu lama untuk menembus isolasi internasional. Meski Rusia menjadi prioritas utama lewat dukungan militer dalam konflik Ukraina, China tetap menjadi jalur ekonomi vital dan sekutu tradisional yang tak tergantikan bagi Korea Utara.
Dinamika ini terlihat dari bagaimana Pyongyang perlahan-lahan “mencairkan” diri. Bulan lalu, layanan penerbangan langsung dan kereta penumpang antarnegara telah diaktifkan kembali setelah mati suri sejak pandemi COVID-19 tahun 2020.
Upaya Kim membangun “front persatuan” melawan Washington terlihat jelas. Namun, pertemuan ini terjadi di waktu yang sensitif menjelang rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing pada Mei mendatang. Sementara Kim menutup pintu dialog dengan AS dan Korea Selatan sejak 2019, banyak pihak di Seoul berharap manuver China ini bisa menjadi celah diplomatik baru.
Hingga kunjungan Wang berakhir, belum ada laporan resmi mengenai apakah kedua pihak membahas konflik di Timur Tengah atau langkah spesifik terkait Amerika Serikat. Yang pasti, di bawah langit Pyongyang, Kim dan Wang telah sepakat bahwa masa depan dunia tidak boleh hanya ditentukan oleh satu tangan saja.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














