Bangladesh Dihadapkan Ancaman Pemutusan Jaringan Telekomunikasi Akibat Krisis Energi

0
Krisis energi
Ilustrasi Penumpang dan pendayung di perahu dayung di terminal peluncuran Sadarghat.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, DHAKAKrisis energi yang melanda Bangladesh kian menunjukkan dampak serius. Ancaman terputusnya jaringan telepon seluler dan internet secara luas mulai menghantui negara berpenduduk sekitar 170 juta jiwa itu, seiring kelangkaan bahan bakar yang belum menunjukkan tanda mereda.

Pada Senin (20/4/2026), para operator telekomunikasi memperingatkan bahwa operasional mereka berada di titik kritis. Ketergantungan tinggi terhadap impor energi sekitar 95 persen kebutuhan minyak dan gas berasal dari kawasan Timur Tengah membuat krisis ini cepat merembet ke berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga layanan komunikasi.

Di lapangan, situasi terasa mencekam. Antrean kendaraan mengular di stasiun pengisian bahan bakar, bahkan mencapai 10 hingga 12 jam. Aktivitas warga terganggu, sementara distribusi energi tersendat.

Asosiasi Operator Telekomunikasi Seluler Bangladesh atau AMTOB menyatakan kondisi darurat telah terjadi. Mereka bahkan telah menyurati BTRC untuk memperingatkan potensi gangguan besar pada jaringan komunikasi nasional.

Baca Juga :  5 Bahaya Makan Daging Kurban Berlebihan Saat Idul Adha, Jangan Sampai Terjadi!

“Situasi ini telah meningkat di luar kendali operasional,” tulis AMTOB dalam surat resminya.

Asosiasi tersebut menegaskan, tanpa pasokan bahan bakar yang memadai, keberlangsungan layanan telekomunikasi tidak dapat dijamin. Risiko pemadaman jaringan skala besar kini semakin nyata.

“Jika kondisi ini terus berlanjut, terdapat risiko nyata terjadinya penutupan jaringan telekomunikasi skala besar di sebagian besar wilayah negara,” tegas pernyataan tersebut.

Gangguan tidak hanya berasal dari kelangkaan bahan bakar, tetapi juga dari ketidakstabilan pasokan listrik. Operator seluler mulai kesulitan menjaga operasional, terutama untuk menopang pusat data yang menjadi tulang punggung layanan digital.

“Operator jaringan seluler (MNO) mengalami kesulitan operasional yang parah karena tidak tersedianya listrik komersial dalam waktu lama dan kurangnya jaminan pasokan bahan bakar untuk sistem cadangan,” tambah AMTOB.

Di balik layar, pusat data bekerja tanpa henti, mengonsumsi 500 hingga 600 liter diesel per jam atau hampir 4.000 liter per hari. Dalam kondisi krisis, kebutuhan sebesar itu menjadi beban yang sulit dipenuhi.

Baca Juga :  5 Metode Praktis Menghentikan Telepon Pinjol yang Bikin Resah

“Beberapa fasilitas telekomunikasi yang sangat vital secara strategis saat ini beroperasi dengan cadangan bahan bakar yang sangat rendah dan berbahaya,” ungkap asosiasi tersebut.

Sekretaris Jenderal AMTOB, Mohammad Zulfikar, mengingatkan bahwa dampak penutupan pusat data tidak bersifat lokal, melainkan sistemik.

“Pemadaman jaringan sebagian atau seluruhnya dapat menyebabkan panggilan telepon, internet, SMS, dan semua layanan lainnya terhenti atau mengalami gangguan parah,” ujarnya kepada AFP.

Ia menambahkan, pusat data adalah jantung dari lalu lintas digital. Ketika sistem ini berhenti, konektivitas nasional ikut lumpuh.

“Internet mungkin menjadi sangat lambat atau mati sepenuhnya, karena pusat data adalah pusat komando tempat lalu lintas data diarahkan dan dikendalikan,” jelasnya.

Sementara itu, pemerintah justru menaikkan harga bahan bakar di tengah krisis. Harga diesel naik 15 persen menjadi 115 taka per liter, sedangkan bensin meningkat 16 persen menjadi 135 taka per liter. Menteri Energi Iqbal Hasan Mahmud menyebut kebijakan itu sebagai langkah yang tak terhindarkan.

Baca Juga :  Mensos dan Wali Kota Bogor Hadir di Pembukaan MPLS Sekolah Rakyat, Awal Baru Pendidikan Merata

“Seluruh dunia telah menyesuaikan harga, bahkan Amerika Serikat sekalipun,” katanya kepada wartawan.

Namun di tingkat masyarakat, kebijakan tersebut belum mampu meredakan situasi. Distribusi bahan bakar masih tersendat, dan antrean panjang tetap terjadi.

“Saya menunggu selama tiga jam dan hanya bergerak beberapa meter,” kata Md Sagar, seorang pengendara sepeda motor.

Keluhan serupa disampaikan Zakir Mia, yang harus menghabiskan hampir seharian di SPBU.

“Orang-orang di antrean harus menghabiskan 10 sampai 12 jam di stasiun pengisian bahan bakar,” tuturnya.

Di tengah tekanan yang terus meningkat, krisis energi di Bangladesh kini tidak hanya menjadi persoalan pasokan, tetapi juga ancaman serius bagi stabilitas komunikasi dan aktivitas masyarakat secara luas.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com