NARASITODAY.COM, BUKAREST – Gedung parlemen Rumania yang megah menjadi saksi bisu berakhirnya sebuah ambisi besar. Pada Selasa (5/5/2026), pemerintahan pro-reformasi di bawah komando Perdana Menteri Ilie Bolojan resmi dinyatakan terjungkal. Melalui mekanisme mosi tidak percaya, kabinet yang baru seumur jagung itu dipaksa meletakkan mandatnya, menyeret negara anggota NATO ini kembali ke dalam pusaran ketidakpastian politik yang kronis.
Kejatuhan ini bukan sekadar pergantian kekuasaan biasa. Ini adalah momen bersejarah yang getir bagi demokrasi Rumania, di mana faksi kiri-tengah “bermesraan” dengan kelompok sayap kanan untuk menggulingkan pemimpin yang baru menjabat selama 10 bulan tersebut.
Aliansi “Ganjil” di Ruang Parlemen
Suasana di ruang sidang terasa begitu tegang saat pemungutan suara dimulai. Secara mengejutkan, Partai Sosial Demokrat (PSD) yang berhaluan pro-Eropa memilih untuk berjabat tangan dengan Aliansi untuk Persatuan Rumania (AUR), sebuah partai sayap kanan yang kerap dicap pro-Rusia.
Kolaborasi ini meruntuhkan sekat politik yang selama ini dijaga ketat oleh kelompok pro-demokrasi. Hasilnya telak. “Mosi tidak percaya tersebut lolos dengan 281 suara setuju dari total 464 kursi di dua kamar parlemen,” tulis laporan Deutsche Welle (DW).
Sesaat sebelum palu diketuk, Ilie Bolojan berdiri di podium dengan raut wajah yang penuh ketegasan sekaligus getir. Ia menyampaikan sebuah peringatan yang membekas bagi publik.
“Saya bisa pergi, tetapi masalah negara ini akan tetap ada,” ujar Bolojan sebagaimana dikutip pada Kamis (7/5/2026).
Harga Mahal Sebuah Reformasi
Runtuhnya kabinet ini seolah mengonfirmasi kutukan stabilitas di Rumania. Sejak krisis konstitusi tahun 2012, negara ini telah bergonta-ganti pemimpin sebanyak 11 kali dengan 19 kabinet berbeda.
Bolojan sebenarnya datang dengan niat melakukan “bedah total” terhadap ekonomi negara yang menderita defisit anggaran di atas 9%. Namun, obat yang ia tawarkan dirasa terlalu pahit bagi rekan koalisinya. Ia menaikkan pajak penjualan dan memangkas puluhan ribu posisi birokrasi yang dianggap sebagai “lemak” tidak efisien dalam tubuh pemerintahan.
Puncaknya adalah keberanian Bolojan menyentuh wilayah sensitif yaitu reformasi pensiun khusus.
Di Rumania, para pejabat yudikatif bisa pensiun sebelum usia 50 tahun dengan tunjangan mencapai US$5.800 hingga US$15.000 per bulan. Angka ini bak bumi dan langit jika dibandingkan pensiun warga biasa yang hanya berkisar US$540 hingga US$650. Upaya menghapus hak istimewa inilah yang memicu kemarahan PSD.
Menanggapi hal itu, “Bolojan menggambarkan mosi tidak percaya terhadap pemerintahannya sebagai hal yang ‘tidak jujur, sinis, dan buatan’,” tulis laporan tersebut.
Menanti Arah Angin
Kini, bola panas berada di tangan Presiden Nicusor Dan. Meski partai sayap kanan AUR mulai membayangkan kemenangan besar jika pemilihan umum (pemilu) dipercepat digelar, sang Presiden mencoba memberikan ketenangan di tengah badai.
Dalam pernyataannya pada Selasa malam, Presiden Dan menegaskan bahwa Rumania tidak akan berpaling dari sekutu Baratnya. Laporan tersebut menutup dengan optimisme sang kepala negara bahwa “Dan menepis kemungkinan pemilihan umum dini dan menyatakan keyakinannya bahwa pada akhir semua konsultasi dan prosedur konstitusional, Rumania ‘sekali lagi akan memiliki pemerintahan pro-Barat’.”
Bagi rakyat Rumania, mereka kini hanya bisa menunggu, apakah pemerintahan selanjutnya akan benar-benar membawa solusi, atau sekadar menjadi babak baru dalam drama politik yang tak kunjung usai.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














