Mahkota Binokasih Simbol Kekuasaan Sunda, Akademisi Beberkan Maknanya

0
Kolase foto Gubernur Jawa Barat (Kiri). Mahkota Binokasih. Foto : Ist

NARASITODAY.COM, BOGOR – Prasasti Batutulis di Kota Bogor kembali menjadi sorotan dalam diskusi bertajuk “Batutulis dalam Sudut Pandang Teknokratis” yang digelar di Museum Pajajaran, Kamis (14/5/2026).

Artefak bersejarah ini dinilai tidak sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga menyimpan jejak kejayaan Kerajaan Sunda di bawah kepemimpinan Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.

Ahli Epigrafi Titi Surti Nastiti menjelaskan, prasasti tersebut dibuat atas perintah Raja Surawisesa sebagai bentuk penghormatan kepada Prabu Siliwangi yang berjasa menata Pakuan Pajajaran sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Sunda pada abad ke-15.

“Prasasti ini merupakan bentuk memorial atas kepemimpinan Prabu Siliwangi yang berhasil memperkuat struktur dan tata kota kerajaan,” sebagaimana di lansir dari website disparbud. Senin (18/05/2026).

Baca Juga :  Israel Tembaki Warga Tak Bersenjata yang Berebut Bantuan, Dunia Kecam Kekejaman

Meski demikian, jejak fisik kejayaan Kerajaan Sunda kini tidak banyak tersisa. Salah satu faktor yang disebut memengaruhi adalah kuatnya ekspansi kerajaan Islam di Pulau Jawa pada masa berikutnya.

Dalam forum tersebut, perhatian juga tertuju pada Mahkota Binokasih, artefak yang kini disimpan di Keraton Sumedang Larang. Berdasarkan naskah kuno Carita Parahyangan, mahkota tersebut menjadi simbol legitimasi kekuasaan raja-raja Sunda dan memiliki nilai historis yang erat dengan runtuhnya Pajajaran.

Ahli Arkeometalurgi BRIN, Harry Octavianus Sofian, mengungkapkan bahwa Mahkota Binokasih merepresentasikan konsep kosmologi Sunda “Triangtu”, yakni hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Baca Juga :  PLN UID Jakarta Raya Raih Gold Award SNI 2024, Bukti Komitmen pada Standar Mutu dan Keberlanjutan

“Struktur mahkota ini mencerminkan tiga peran utama dalam sistem pemerintahan Sunda, yakni rama, ratu, dan resi,” jelasnya.

Ia memaparkan, bagian atas mahkota melambangkan rama atau pemimpin spiritual, bagian tengah menggambarkan ratu/prabu sebagai pemegang kekuasaan, sementara bagian bawah mencerminkan resi, yakni kaum intelektual dan penasehat kerajaan.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menekankan pentingnya pendekatan akademik dalam memahami benda-benda bersejarah, termasuk Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih. Ia mengajak masyarakat meninggalkan cara pandang mistis terhadap peninggalan sejarah dan mulai melihatnya dari perspektif ilmu pengetahuan dan peradaban.

Baca Juga :  Ganda Putra Indonesia Tinggal Menyisakan Dua Wakil Setelah Kekalahan Fikri/Daniel

“Kita harus mengubah cara pandang dari yang bersifat klenik menjadi teknokratis, agar warisan budaya ini dipahami secara utuh dan ilmiah,” kata Dedi.

Menurutnya, kajian komprehensif diperlukan untuk mendokumentasikan setiap aspek sejarah, mulai dari waktu pembuatan, bahan, hingga makna simbolik yang terkandung dalam setiap artefak.

Dedi menambahkan, upaya tersebut penting untuk menjaga kesinambungan antara sejarah masa lalu dan pembangunan masa depan, sekaligus memperkuat identitas budaya Sunda di tengah perkembangan zaman.