Rekor Jumlah Pendaki Capai Puncak Everest Sehari, Nepal Catatkan Prestasi Tertinggi dalam Sejarah

0
Everest
Ilustrasi pendaki gunung.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, KATHMANDU – Atap dunia menyaksikan momen paling sibuk dalam sejarah peradaban manusia. Pada Rabu (20/5/2026), antrean jaket tebal berwarna-warni tampak merayap di bawah langit biru yang tipis. Di hari itu, sebanyak 274 pendaki dilaporkan berhasil menapakkan kaki di titik tertinggi Mount Everest (8.849 mdpl), memecahkan rekor jumlah pendaki terbanyak dalam satu hari dari jalur Nepal.

Gunung raksasa yang berdiri kokoh di perbatasan Nepal dan Tibet, China, ini sebenarnya bisa diakses dari dua arah. Namun, penumpukan luar biasa dari sisi selatan (Nepal) tahun ini terjadi lantaran otoritas China memilih menutup rapat gerbang pendakian dari sisi Tibet dengan tidak menerbitkan izin sama sekali. Akibatnya, seluruh pemburu mimpi dari berbagai belahan dunia tumpah ruah di satu jalur yang sama.

Sekretaris Jenderal Expedition Operators Association of Nepal, Rishi Bhandari, mengonfirmasi bahwa angka ini telah melampaui rekor jalur Nepal sebelumnya, yakni 223 orang pada 22 Mei 2019. Sebagai catatan, rekor dunia absolut dari gabungan kedua sisi masih dipegang oleh catatan sejarah tanggal 23 Mei 2019 dengan 354 pendaki, menurut Guinness World Records.

Baca Juga :  Musrenbang RKPD Tahun 2027 Digelar

“Ini adalah jumlah tertinggi pendaki dalam satu hari sejauh ini,” ujar Bhandari. Ia juga menambahkan bahwa angka fantastis tersebut masih berpotensi bertambah karena sebagian pendaki yang sukses belum turun ke base camp untuk melaporkan keberhasilan mereka.

Menanti Bukti Foto di Tengah Komersialisasi

Pihak pemerintah melalui Departemen Pariwisata Nepal bersikap lebih berhati-hati. Data internal mereka mencatat sedikitnya ada lebih dari 250 pendaki yang mengklaim telah menginjak puncak pada hari Rabu tersebut. Namun, sertifikat resmi tidak akan dikeluarkan begitu saja tanpa bukti yang valid.

“Baru setelah verifikasi kami bisa memastikan jumlah pastinya,” kata seorang pejabat Department of Tourism Nepal, merujuk pada pemeriksaan ketat terhadap laporan tertulis dan bukti foto puncak dari masing-masing pendaki.

Baca Juga :  Waspada! Inilah 5 pemicu Kaki Melepuh Saat Trekking yang Biasa Diabaikan Pendaki Pemula

Tahun ini, Nepal mengeruk keuntungan besar dengan menerbitkan 494 izin pendakian Everest, di mana tiap pendaki wajib menyetor kocek sekitar 15.000 dolar AS (sekitar Rp 240 juta) hanya untuk selembar surat izin. Kebijakan jor-joran ini kembali memantik kritik pedas dari komunitas pendaki gunung dunia.

Para pakar keselamatan memperingatkan risiko fatal dari terbentuknya “kemacetan manusia” (traffic jam) di jalur sempit menuju puncak, terutama di wilayah horor yang dijuluki Death Zone (Zona Kematian).

Di zona di atas ketinggian 8.000 meter ini, kadar oksigen sangat tipis dan tidak mampu menopang kehidupan manusia dalam waktu lama. Antrean yang macet selama berjam-jam di titik ini sering kali berujung pada petaka radang dingin (frostbite) hingga kematian.

Kunci Logistik di Atas Langit

Baca Juga :  Menteri KLH dan Gubernur Jawa Barat Dukung Langkah Penyegelan untuk Lestarikan Puncak

Meski dihantui bayang-bayang bahaya Death Zone, beberapa operator ekspedisi papan atas menilai ketakutan tersebut terlalu berlebihan. Bagi mereka, manajemen waktu dan kekuatan logistik adalah kunci utama untuk menjinakkan kepadatan Everest.

Lukas Furtenbach, bos dari perusahaan ekspedisi ternama asal Austria, Furtenbach Adventures, menegaskan bahwa ramainya jalur bukan menjadi alasan kegagalan jika sebuah tim memiliki perencanaan yang matang.

“Jika tim membawa cukup oksigen, itu bukan masalah besar. Kami berada di belakang kerumunan besar sehingga tidak terdampak,” ujarnya menceritakan situasi lapangan dari base camp.

Furtenbach bahkan memberikan analogi santai dengan membandingkan Everest dengan pegunungan di Eropa. Menurutnya, kepadatan di Everest belum ada apa-apanya dibanding gunung-gunung di Alpen yang sanggup menampung hingga ribuan orang dalam satu hari. Kuncinya, sekali lagi, ada pada pasokan tabung oksigen yang melimpah di punggungan gunung tertinggi di bumi tersebut.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber