NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat berhasil meloloskan resolusi yang memerintahkan Presiden Donald Trump untuk menarik pasukan militer AS dari pusaran konflik dengan Iran, Rabu waktu setempat. Pemungutan suara tersebut berakhir dengan selisih tipis, yakni 215 suara berbanding 208.
Keputusan parlemen ini menandai babak baru dalam politik domestik AS. Ini merupakan kali pertama salah satu kamar di Kongres berhasil meloloskan langkah pembatasan militer sejak Operasi Epic Fury diluncurkan pada 28 Februari lalu sebuah operasi militer yang menandai keterlibatan langsung Washington dalam konfrontasi bersenjata melawan Iran.
Merespons tamparan politik tersebut, Presiden Donald Trump langsung melancarkan kritik tajam melalui platform media sosialnya, Truth Social. Trump menuding langkah DPR tersebut sebagai tindakan yang “tidak patriotik” dan menyebut keputusan itu didorong oleh apa yang ia istilahkan sebagai sindrom kebencian terhadap dirinya.
Namun, melansir analisis The Guardian, Sabtu (5/6/2026), dinamika di Capitol Hill menunjukkan bahwa keraguan atas urgensi perang ini tidak lagi menjadi monopoli kubu Demokrat. Empat politisi dari Partai Republik partai yang mengusung Trump secara mengejutkan membelot dan ikut mendukung resolusi penghentian perang tersebut dengan latar belakang prinsip yang kuat.
Salah satu pembelot, Brian Fitzpatrick dari Pennsylvania, merupakan mantan agen FBI yang mewakili daerah moderat di pinggiran Philadelphia. Ia menegaskan keputusan hukumnya dengan argumen yang sangat mendasar.
“Anda harus mengikuti hukum, atau Anda harus mengubah hukum,” kata Fitzpatrick. “Anda tidak bisa melanggar hukum. Itu bukan pilihan.”
Selain Fitzpatrick, tiga legislator Republik lainnya yang ikut membelot adalah Thomas Massie dari Kentucky yang berhaluan libertarian, Warren Davidson dari Ohio yang merupakan mantan pasukan elite Army Ranger, serta Tom Barrett dari Michigan yang akhirnya mengubah haluan karena mendengar jeritan kesulitan ekonomi dari para konstituen di daerah pilihannya.
Kontradiksi Klaim Istana dan Realitas di Pom Bensin
Di balik riuhnya debat ruang sidang, kejenuhan publik Amerika atas perang mulai terasa nyata di kehidupan sehari-hari. Sementara Gedung Putih bersikeras bahwa perang di Timur Tengah sebenarnya telah usai, masyarakat di dalam negeri justru harus menghadapi realitas pahit di depan mata mereka yaitu meroketnya harga bahan bakar di papan-papan pom bensin.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pekan ini bahkan sempat meyakinkan Kongres bahwa Operasi Epic Fury telah “berakhir” dan aktivitas militer yang tersisa saat ini sepenuhnya hanya bersifat defensif. Namun, klaim sepihak pemerintah ini bertolak belakang dengan situasi ekonomi yang kian mencekam.
Saat ini, harga bensin rata-rata nasional AS telah melambung mendekati US$4,24 per galon, bahkan di California harganya hampir menyentuh angka psikologis US$6 per galon. Selain itu, Selat Hormuz yang menjadi urat nadi bagi 20% pasokan minyak mentah dunia masih lumpuh dan tertutup total, meskipun konfrontasi bersenjata telah berjalan selama lebih dari tiga bulan.
Ironisnya, kontradiksi narasi ini justru terlihat jelas dari pernyataan tertulis Donald Trump sendiri. Di dalam unggahan yang sama saat ia mengutuk keputusan DPR, Trump secara tidak sengaja membeberkan bahwa konfrontasi tersebut sebenarnya belum benar-benar selesai.
Trump menulis bahwa saat ini dirinya tengah menjalankan “negosiasi terakhir untuk mengakhiri perang dengan Republik Islam Iran”. Pernyataan ini langsung memicu skeptisisme publik, karena memunculkan pertanyaan besar yaitu mengapa sebuah operasi militer yang diklaim pemerintah telah berakhir, nyatanya masih membutuhkan negosiasi tingkat tinggi untuk bisa diselesaikan?
Data dari berbagai lembaga survei terkemuka mengonfirmasi bahwa kepercayaan masyarakat terhadap strategi luar negeri pemerintah berada di titik nadir. Survei terbaru dari Economist/YouGov menunjukkan bahwa 59% warga Amerika menyatakan tidak setuju dengan cara Trump menangani krisis Iran, dan hanya 31% yang memberikan dukungan.
Kondisi ini diperkuat oleh data makro dari Moody’s Analytics yang memperkirakan bahwa akibat lonjakan biaya energi dari konflik Iran ini, isi dompet rumah tangga di Amerika Serikat secara agregat telah terkuras hingga mencapai US$100 miliar.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














