
NARASITODAY.COM, MASHHAD –Lautan manusia berpakaian hitam memadati kota suci Mashhad untuk mengantarkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, ke persemayaman terakhirnya di kompleks makam Imam Reza pada Jumat (10/7/2026).
Prosesi pemakaman ini menjadi puncak dari masa berkabung nasional selama sepekan, yang ironisnya berlangsung di tengah eskalasi konflik yang kembali membara dengan Amerika Serikat (AS).
Khamenei, yang memimpin Iran selama hampir empat dekade sejak 1989, tewas dalam serangan udara AS dan Israel pada 28 Februari lalu hari pertama dari perang empat bulan yang sempat mereda lewat gencatan senjata bulan lalu. Kini, setelah jeda beberapa pekan, ketegangan antara Teheran dan Washington kembali berada di titik didih.
Jenazah sang pemimpin diarak menggunakan truk melewati barisan ribuan pelayat yang mengibarkan bendera Iran dan spanduk revolusi. Pemerintah sengaja mendorong mobilisasi massa secara masif ini sebagai simbol solidaritas nasional dan unjuk kekuatan di hadapan sekutu Barat.
Misteri Mojtaba Khamenei dan Isu Luka Parah
Di tengah gemuruh duka dan politik di Mashhad, sebuah tanya besar membayangi masa depan Iran yaitu di mana Mojtaba Khamenei?
Penerus takhta Pemimpin Tertinggi yang ditunjuk oleh Majelis Ulama pada awal Maret lalu itu hingga kini belum pernah sekalipun menampakkan diri di hadapan publik sejak perang pecah. Belum ada foto, rekaman video, maupun suara resmi yang dirilis atas namanya, melainkan hanya pernyataan tertulis.
Sejumlah sumber senior di Teheran mengungkapkan bahwa Mojtaba mengalami luka serius dalam serangan yang menewaskan ayahnya. Wajahnya dilaporkan mengalami cedera berat dan beberapa anggota tubuhnya terluka.
Meski kondisinya dikabarkan terus membaik, ia dinilai belum cukup pulih untuk tampil di hadapan publik. Selain faktor kesehatan, aparat keamanan Iran dilaporkan sangat membatasi kemunculannya guna mengantisipasi potensi serangan lanjutan dari militer AS.
Suasana sakral pemakaman berulang kali pecah oleh amarah massa. Ribuan pelayat meneriakkan slogan-slogan anti-Amerika dan menyerukan aksi balas dendam yang membara atas kematian Khamenei.
Sebagian peserta pawai tampak membawa poster bertuliskan “Kill Trump” yang menargetkan Presiden AS Donald Trump. Menjelang malam, ketika peti jenazah harus dievakuasi menggunakan helikopter dari truk karena padatnya lautan manusia, halaman kompleks Makam Imam Reza dipenuhi gema yang seragam.
“Mati untuk Amerika,” teriak para pelayat, bersahutan di antara lantunan doa dan musik duka yang menggema dari pengeras suara.
Putra sulung Khamenei, Mostafa Khamenei, akhirnya memimpin salat jenazah sebelum peti yang dibalut bendera Iran tersebut digotong masuk ke dalam area utama kompleks makam. Kantor berita resmi IRNA melaporkan bahwa pemakaman Khamenei dan empat anggota keluarganya yang turut gugur dalam serangan udara tersebut kini telah selesai dilaksanakan, setelah sebelumnya jenazah sempat dibawa berkeliling ke Teheran, Qom, serta kota suci Najaf dan Karbala di Irak.
Era Baru dan Tantangan Domestik Iran
Pemakaman ini menandai berakhirnya sebuah era dan dimulainya babak baru yang penuh ketidakpastian bagi Iran. Di bawah kendali Khamenei sebelumnya, seluruh kewenangan politik, militer, dan ekonomi dipusatkan pada lembaga Pemimpin Tertinggi dengan sokongan penuh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Kini, IRGC muncul sebagai kekuatan paling dominan dalam pengambilan keputusan strategis negara dan disebut-sebut menjadi pelindung utama di balik penunjukan Mojtaba Khamenei.
Walau para analis menilai Iran masih mampu mempertahankan pengaruh geopolitiknya termasuk kontrol atas Selat Hormuz perang empat bulan kemarin telah meninggalkan luka ekonomi yang sangat dalam dan kerusakan infrastruktur yang luas di dalam negeri.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id













