NARASITODAY.COM – Aroma duka kembali menyeruak di tengah komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI). Dua nyawa anak bangsa, Rizal Sampurna dan Iwan Sahab, menghembuskan napas terakhir di Kamboja yang menimbulkan pertanyaan besar.
Kuat dugaan, keduanya menjadi korban keji Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan menyisakan pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.
Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) membuka tabir kelam di balik kepergian Rizal dan Iwan. Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Kamis (17/4/2025), Menteri KP2MI, Abdul Kadir Karding, memaparkan kronologi yang meresahkan.
Kisah pilu Rizal bermula pada 4 Oktober 2024. Pria asal Banyuwangi ini nekat merantau ke Kamboja tanpa sepengetahuan keluarga. Jejak perjalanannya terendus melalui Malaysia, sebelum akhirnya menyeberangi lautan menuju negeri Angkor Wat.
“Jadi tim kami, yaitu Kepala Balai BP3MI Jatim, mendapat informasi dari Disnaker Banyuwangi, bahwa ada seorang bernama Rizal Sampurna berangkat ke Kamboja pada Oktober 2024 tanpa diketahui pihak keluarga,” ungkap Karding dengan nada prihatin.
Keluarga Rizal sempat menerima kabar dari almarhum pada Januari 2025. Rizal mengabarkan dirinya bekerja di Kamboja, namun enggan mengungkap identitas pihak yang memberangkatkannya.
Misteri semakin pekat ketika pada 13 Maret 2025, Rizal menghubungi adik sepupunya dan membuka fakta pahit: pekerjaannya adalah seorang scammer. Lebih mencengangkan lagi, Rizal bahkan mengirimkan foto dirinya sedang bekerja dengan tangan terborgol, sebuah pemandangan yang mengindikasikan adanya paksaan dan penyekapan.
Kabar duka akhirnya tiba pada 6 April 2025. Seorang pria bernama Ihwan menghubungi keluarga dan mengaku sebagai aparat berwenang Kamboja. Ia menyampaikan berita buruk bahwa Rizal telah meninggal dunia.
Namun, permintaan keluarga untuk melihat bukti dokumen atau foto jenazah ditolak mentah-mentah. Ihwan berdalih bahwa seluruh dokumen telah dipegang oleh Kepolisian Kamboja.
“Saat ini jenazah Rizal Sampurna berada di tempat penyimpanan jenazah, Yim Funeral Services, Phnol Penh,” tutur Karding dengan wajahSerious.
Tragedi serupa menimpa Iwan Sahab. Kabar duka mengenai musibah yang dialami Iwan di Kamboja pada 4 April 2025 diterima oleh Disnaker Kabupaten Bekasi dan diteruskan kepada BP3MI Jawa Barat.
Setelah mendapatkan penanganan dari KBRI Phnom Penh, Iwan sempat dirawat di RS Kratie, Kamboja, sejak 5 April 2025. Namun, takdir berkata lain. Pada 14 April 2025, Iwan dinyatakan meninggal dunia akibat pecahnya pembuluh darah di otak, yang diduga kuat akibat benturan di kepala.
Ironisnya, pihak KBRI Phnom Penh kesulitan untuk meminta pertanggungjawaban pihak perusahaan tempat Iwan bekerja. “Informasi dari KBRI, mereka tidak mengetahui perusahaan atau tempat bekerja Iwan, sehingga sulit meminta pertanggungjawaban dari perusahaan,” jelas Karding dengan nada kecewa.
Kisah tragis Rizal dan Iwan menambah daftar panjang PMI yang menjadi korban di negeri orang. Dugaan kuat keterlibatan jaringan TPPO dalam kasus ini semakin menguatkan urgensi pemerintah untuk bertindak lebih tegas dalam memberantas praktik keji ini.
Keluarga yang ditinggalkan kini hanya bisa berharap keadilan ditegakkan dan para pelaku di balik layar perdagangan manusia ini segera terungkap. Jenazah Rizal dan Iwan diharapkan dapat segera dipulangkan ke tanah air untuk dimakamkan dengan layak, mengakhiri penantian dan kesedihan keluarga.
Kasus ini menjadi pengingat pahit akan risiko yang dihadapi para pekerja migran dan perlunya perlindungan yang lebih komprehensif dari negara.***














