Diabetes di Bogor Meningkat, Luka Kecil Bisa Jadi Ancaman Besar

0
Ilustrasi diabetes

NARASITODAY.COM – Jumlah penderita diabetes melitus (DM) di Kota Bogor terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Selain risiko komplikasi kronis, diabetes juga dapat menyebabkan infeksi serius seperti abses atau bisul yang sulit disembuhkan.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, Erna Nuraena, menyampaikan bahwa lonjakan kasus diabetes cukup signifikan dalam tiga tahun terakhir. Data mencatat sebanyak 17.670 kasus pada 2022, meningkat menjadi 21.297 kasus pada 2023, dan mencapai 21.877 kasus pada 2024.

“Peningkatan ini selain disebabkan oleh faktor gaya hidup, lingkungan, dan genetik, juga karena deteksi dini yang dilakukan secara masif oleh Puskesmas dan Dinkes,” jelas Erna kepada IDN Times, Sabtu (28/6/2025).

Baca Juga :  Densus 88 Polri Gandeng Kampus Cegah Penyebaran Radikalisme dan Terorisme di Kalangan Remaja

Erna menekankan bahwa penderita diabetes perlu berhati-hati bahkan terhadap luka kecil. Kadar gula darah yang tinggi dapat menghambat penyembuhan luka dan berpotensi menyebabkan infeksi berat.

“Gula darah tinggi dapat merusak pembuluh darah dan saraf, sehingga luka jadi lebih lama sembuh,” ujarnya.

Luka yang tampak sepele seperti jerawat atau bisul bisa berkembang menjadi abses yang lebih serius jika tidak segera ditangani.

Dokter bedah umum dari Eka Hospital Depok, dr. Andi Mulyawan, menjelaskan bahwa abses dapat muncul di berbagai bagian tubuh, bahkan pada organ dalam seperti paru-paru dan hati. Ia mengatakan bahwa penderita diabetes memiliki gangguan pada saraf tepi sehingga luka sering tidak terasa dan dibiarkan memburuk.

Baca Juga :  Dinkes Kota Bogor Turun Tangan Usai 36 Siswa SMP Diduga Keracunan Menu MBG

“Abses awalnya luka terbuka, infeksi bakteri. Kalau punya diabetes, saraf tepinya terganggu, luka bisa memburuk karena enggak terasa,” ungkap dr. Andi.

Gejala awal abses biasanya berupa benjolan merah yang hangat saat disentuh, terasa nyeri, dan berisi nanah. Area yang sering terinfeksi meliputi ketiak, wajah, paha, dan area genital, terutama pada individu dengan produksi keringat berlebih.

Dr. Andi juga menyoroti bahwa kebiasaan sehari-hari yang dianggap sepele dapat memicu abses. Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan kulit serta mengelola stres, karena penurunan daya tahan tubuh dapat memperparah infeksi.

Baca Juga :  Sepeda Motor Hilang di Parkir Resmi Pasar Jasinga, Pengelola Parkir Ditanya Soal Tanggung Jawab

“Terlalu banyak makan protein juga bisa memicu bisul. Jangan mencukur rambut saat badan kurang fit. Kebersihan kulit yang buruk bisa jadi sarang bakteri,” jelasnya.

Ia menyarankan agar masyarakat tidak memencet bisul dengan tangan yang kotor dan sebaiknya menggunakan kompres air hangat untuk membantu mengeluarkan nanah. Jika bisul membesar dan tidak membaik, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

“Jika bisul besar dan nyeri tak kunjung reda, segera ke dokter untuk prosedur insisi atau perawatan luka lebih lanjut,” imbaunya.***