Paus Leo Tunuk Diplomat Senior untuk AS di Tengah Ketegangan dengan Trump

0
Paus Leo
Paus Leo XIV.Foto : Vatican Media

NARASITODAY.COM, VATIKAN – Di tengah memanasnya hubungan diplomatik antara Takhta Suci dan Washington, Paus Leo membuat langkah strategis dengan menunjuk Uskup Agung Gabriele Caccia sebagai Duta Besar Vatikan untuk Amerika Serikat sekaligus utusan untuk pemerintahan Presiden Donald Trump, Sabtu (7/3/2026).

Penunjukan Caccia bukan sekadar pengisian jabatan rutin. Diplomat senior asal Milan berusia 68 tahun ini hadir di saat hubungan kedua negara berada di titik nadir, menyusul kritik keras Vatikan terhadap operasi militer AS dan Israel di Iran yang dinilai telah melanggar prinsip hukum internasional.

Caccia bukanlah sosok baru dalam menghadapi pemimpin yang kontroversial. Sebelum menjabat sebagai perwakilan tetap Vatikan di PBB pada 2020, ia pernah bertugas di Filipina dan berhadapan langsung dengan retorika tajam Presiden Rodrigo Duterte.

Baca Juga :  Militer AS Tetap Siaga Tinggi Meski Pesawat di Qatar Berkurang Drastis

Kini, ia mewarisi kursi yang ditinggalkan Kardinal Christophe Pierre di Washington—sebuah pos yang dianggap sebagai salah satu titik diplomasi paling krusial bagi Gereja Katolik di dunia.

Menjembatani Kritik dan Kebijakan

Penugasan ini menjadi sorotan karena Paus Leo, yang merupakan paus pertama asal AS, dikenal vokal terhadap kebijakan domestik negaranya sendiri. Paus secara terbuka mengecam kebijakan pengetatan imigrasi di bawah pemerintahan Trump.

Paus Leo menyebut kebijakan imigrasi yang memicu gejolak di sejumlah kota di AS tersebut sebagai tindakan yang “tidak manusiawi”.

Baca Juga :  Sekda Tekankan Percepatan Penanganan Agenda Strategis Daerah

Ketegangan ini diperparah dengan pernyataan dari internal gereja di AS. Pada Januari lalu, tiga kardinal terkemuka menyatakan bahwa peran moral Amerika dalam menghadapi berbagai persoalan global kini mulai dipertanyakan.

Profil dan Peran Strategis Gabriele Caccia

Sebagai duta besar, Caccia tidak hanya menjadi penyambung lidah Paus di Gedung Putih, tetapi juga memegang kunci masa depan Gereja Katolik Amerika yang memiliki sekitar 72 juta umat.

Atribut Detail Informasi
Pengalaman Diplomasi Mantan Dubes Vatikan untuk Filipina, Lebanon, dan PBB.
Posisi Sebelumnya Pejabat nomor tiga di Sekretariat Negara Vatikan.
Tugas Utama Menjalankan diplomasi formal dan merekomendasikan calon uskup baru di AS kepada Paus.
Status Historis Dubes Vatikan pertama di AS yang sebelumnya pernah menjabat sebagai perwakilan PBB.
Baca Juga :  Trump Umumkan Keadaan Darurat Nasional di Perbatasan AS-Meksiko untuk Atasi Imigrasi

Tantangan ke Depan

Tugas Caccia di Washington dipastikan tidak mudah. Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, telah memberikan sinyal tegas bahwa aksi militer AS baru-baru ini telah “merusak prinsip hukum internasional.”

Caccia diharapkan mampu mengulang kesuksesannya di Manila, di mana ia berhasil meredakan ketegangan antara uskup setempat dengan Presiden Duterte yang saat itu kerap menyerang pejabat Gereja dalam pidatonya. Pengalaman tersebut menjadi modal penting saat ia harus menavigasi hubungan dengan pemerintahan Trump yang kini tengah menjadi sorotan para uskup di Amerika Serikat.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber