Aktivis Soroti Dugaan Pembatasan Jurnalis di Karnaval Binokasih

0
Aktivis Cianjur, Adi Otong. Foto : ist

NARASITODAY.COM, CIANJUR- Karnaval Mahkota Binokasih Sanghyang Pake yang digelar di Kabupaten Cianjur berlangsung semarak, Rabu (7/5/2026). Kehadiran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turut menambah antusiasme masyarakat yang memadati lokasi acara.

Namun di balik kemeriahan tersebut, muncul sorotan terkait dugaan pembatasan terhadap kerja jurnalistik di lapangan. Sejumlah wartawan mengaku mengalami kesulitan saat melakukan wawancara maupun pengambilan dokumentasi selama kegiatan berlangsung.

Aktivis Cianjur, Adi Otong, menilai kondisi tersebut berpotensi menghambat proses peliputan. Ia menyebut, akses yang terbatas membuat jurnalis kesulitan melakukan konfirmasi langsung kepada narasumber.

Baca Juga :  Khawatir Berdampak Pada Lingkungan, Warga Desa Mulyasari Gelar Demo Hentikan Penambangan

“Jika akses dibatasi, tentu akan menghambat kerja jurnalistik, terutama dalam proses verifikasi dan konfirmasi informasi,” ujar Adi saat dimintai tanggapan.

Menurutnya, kebebasan pers merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem demokrasi. Bahkan dalam kegiatan budaya sekalipun, ruang bagi jurnalis untuk bekerja secara profesional seharusnya tetap terbuka.

Adi juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara aspek pengamanan dan keterbukaan informasi publik, terlebih dalam acara yang melibatkan pejabat negara.

Baca Juga :  Pernyataan Kontroversial Trump Di Tengah Ketegangan di Selat Hormuz

“Pengamanan memang penting, tetapi tidak boleh menghilangkan ruang bagi pers. Bisa disiasati dengan menyediakan sesi wawancara resmi atau area khusus peliputan yang jelas,” katanya.

Ia menambahkan, keterbatasan akses berpotensi membuat informasi yang diterima masyarakat menjadi tidak utuh. Padahal, peran media sangat krusial dalam menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang.

Para awak media sendiri mengaku telah menantikan momentum kehadiran Gubernur Jawa Barat untuk melakukan wawancara langsung terkait berbagai isu. Namun, kesempatan tersebut dinilai belum optimal karena adanya pembatasan di lapangan.

Baca Juga :  Kepercayaan Dijgal! Sopir Bobol Rekening Majikan Rp 430 Juta Lewat PIN Tertulis

Adi berharap ke depan panitia penyelenggara dan aparat keamanan dapat lebih memperhatikan peran strategis pers dalam setiap kegiatan publik.

“Jangan sampai terjadi kesalahpahaman atau pembatasan berlebihan. Kegiatan budaya seperti ini seharusnya juga mencerminkan keterbukaan informasi kepada masyarakat,” pungkasnya.***