NARASITODAY.COM, SYDNEY – Sinyal merah mulai menyala di pasar properti Australia. Setelah sempat melonjak tinggi dan mengabaikan hantaman pandemi serta inflasi, tren kenaikan harga rumah di Negeri Kanguru tersebut kini resmi berbalik arah. Tekanan ekonomi dan aturan pajak yang kian mencekik memaksa para calon pembeli berpikir dua kali untuk bertransaksi.
Data terbaru dari lembaga riset properti CoreLogic menunjukkan harga hunian secara nasional merosot 0,4% pada bulan Juni dibanding bulan Mei. Angka ini menandai penurunan bulanan terdalam sejak Desember 2022. Meski secara tahunan harga rumah masih tumbuh 7,3%, revisi data menunjukkan bahwa puncak kejayaan pasar properti telah lewat pada Maret lalu, dengan akumulasi penurunan mencapai 0,7% sepanjang kuartal kedua.
Dua kota megapolitan, Sydney dan Melbourne, menjadi motor utama pelemahan ini dengan mencatatkan penurunan bulanan masing-masing sebesar 1,2% dan 1%. Sementara itu, kota-kota besar berukuran sedang juga mengalami perlambatan drastis; Adelaide stagnan tanpa pertumbuhan, Brisbane hanya tumbuh tipis 0,3%, dan Perth merangkak naik 0,7%.
Pembalikan kondisi ini terjadi setelah harga properti nasional sempat meroket lebih dari 30% selama lima tahun terakhir, sebuah rekor yang sebelumnya dinilai kebal terhadap pembatasan COVID-19 dan lonjakan biaya pinjaman.
“Bahkan sebelum suku bunga naik tujuh puluh lima basis poin, kami melihat hambatan keterjangkauan yang membebani permintaan pembeli,” ujar Direktur Riset CoreLogic, Tim Lawless.
“Tekanan biaya hidup yang lebih tinggi, sentimen yang sangat pesimistis, dan penurunan permintaan lebih lanjut melalui perubahan pajak properti yang diumumkan dalam anggaran federal semuanya berkontribusi pada kondisi perumahan yang lebih lemah,” tambah Lawless.
Dampak Berantai ke Sektor Finansial dan Lelang
Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) pada Selasa (30/6) membenarkan adanya kelesuan ini. RBA mencatat bahwa pertumbuhan kredit perumahan diproyeksikan akan melambat sebagai dampak nyata dari tiga kali kenaikan suku bunga acuan sejak Februari lalu. Kendati demikian, RBA memperingatkan adanya risiko pelemahan yang lebih dalam yang berpotensi memukul daya beli dan konsumsi masyarakat secara umum.
Kelesuan pasar ini diperkuat oleh data agensi pemeringkat kredit Equifax. Permintaan hipotek atau KPR tercatat anjlok hingga 6,6% dalam lima bulan pertama hingga Mei jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan paling drastis terjadi pada segmen pembeli rumah pertama yang merosot tajam hingga 9,1%.
Suasana sepi juga menjalar ke lantai lelang properti. Tingkat keberhasilan lelang di berbagai ibu kota negara bagian jatuh ke angka 47,4% pada pekan lalu. Angka ini merupakan level terendah sejak April 2020, masa di mana aktivitas ekonomi lumpuh total akibat penguncian wilayah (lockdown) awal pandemi COVID-19. Secara keseluruhan, volume penjualan rumah di ibu kota pada kuartal yang berakhir di bulan Juni merosot 16,2% lebih rendah dari tahun lalu.
Ancaman Efek Domino bagi Ekonomi Nasional
Para analis mengingatkan bahwa penurunan aktivitas sektor properti yang berkelanjutan akan membawa efek domino yang luas. Mengingat industri perumahan memiliki keterkaitan erat dengan banyak sektor lain mulai dari jasa agensi real estat, perbankan, hingga sektor konstruksi fisik lesunya pasar properti bisa mengerem pertumbuhan ekonomi nasional.
Menutup kuartal ini, data terpisah yang dirilis oleh PropTrack pada Rabu (1/7) semakin mempertegas tren makro tersebut. PropTrack melaporkan harga rumah telah turun selama tiga bulan berturut-turut hingga Juni dengan penurunan sebesar 0,3%, meskipun posisinya secara tahunan masih bertahan 5,8% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id














