NARASITODAY.COM,JAKARTA – Berlari menjadi salah satu olahraga yang semakin digemari karena mudah dilakukan dan memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Namun, aktivitas ini juga memiliki risiko cedera, terutama jika intensitas latihan meningkat terlalu cepat atau tubuh tidak mendapatkan waktu pemulihan yang cukup. Salah satu cedera yang cukup sering dialami pelari adalah shin splints, yaitu nyeri di sepanjang tulang kering (tibia) akibat tekanan berulang pada otot, tendon, dan jaringan di sekitarnya.
Sayangnya, banyak pelari menganggap rasa nyeri tersebut sebagai bagian dari proses latihan sehingga tetap memaksakan diri untuk berlari. Padahal, mengabaikan gejala shin splints dapat memperburuk kondisi dan meningkatkan risiko cedera yang lebih serius. Berikut lima tanda shin splints yang sebaiknya tidak diabaikan.
1. Nyeri di Sepanjang Tulang Kering Saat atau Setelah Berlari
Gejala paling umum adalah munculnya rasa nyeri atau ngilu di bagian depan atau sisi dalam tulang kering. Pada tahap awal, rasa sakit biasanya muncul setelah sesi lari selesai. Namun, jika kondisi memburuk, nyeri dapat mulai terasa sejak awal latihan bahkan saat berjalan.
2. Area Tulang Kering Terasa Nyeri Saat Ditekan
Jika bagian tulang kering terasa sakit ketika disentuh atau ditekan, hal tersebut bisa menjadi indikasi adanya peradangan pada jaringan di sekitar tulang. Sensitivitas ini umumnya muncul pada area tertentu dan dapat semakin terasa setelah melakukan aktivitas fisik.
3. Nyeri Tidak Kunjung Hilang Meski Sudah Beristirahat Singkat
Rasa pegal akibat latihan biasanya akan berkurang setelah tubuh mendapatkan waktu istirahat. Sebaliknya, pada shin splints, nyeri dapat bertahan selama beberapa hari atau terus muncul setiap kali mulai berlari kembali. Kondisi ini menandakan tubuh membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama.
4. Muncul Pembengkakan Ringan di Sekitar Tulang Kering
Sebagian pelari mengalami pembengkakan ringan pada area yang terasa nyeri. Meski tidak selalu terlihat jelas, pembengkakan dapat menjadi tanda adanya iritasi atau peradangan akibat beban berulang selama latihan.
5. Performa Lari Mulai Menurun Akibat Rasa Sakit
Ketika nyeri membuat langkah terasa tidak nyaman, kecepatan menurun, atau pola berlari berubah untuk menghindari rasa sakit, kondisi tersebut sebaiknya tidak dianggap sepele. Memaksakan latihan dalam situasi seperti ini justru dapat meningkatkan risiko cedera pada bagian tubuh lain karena perubahan pola gerak.
Jika nyeri terus muncul meski intensitas latihan sudah dikurangi atau bahkan mengganggu aktivitas sehari-hari, pelari sebaiknya menghentikan latihan sementara dan memberikan waktu bagi tubuh untuk pulih. Pada beberapa kasus, istirahat total dari aktivitas berlari selama beberapa hari hingga beberapa minggu dapat membantu proses pemulihan, tergantung tingkat keparahan cedera.
Selain beristirahat, pelari juga disarankan melakukan kompres dingin pada area yang nyeri, menggunakan alas kaki yang sesuai, serta menghindari peningkatan jarak atau intensitas latihan secara tiba-tiba. Setelah gejala membaik, kembali berlari sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tubuh dapat beradaptasi.
Apabila nyeri tidak kunjung membaik, semakin parah, atau disertai pembengkakan yang signifikan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter atau fisioterapis. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan bahwa keluhan tersebut bukan merupakan cedera lain yang lebih serius, seperti fraktur stres.
Mengenali tanda-tanda shin splints sejak dini merupakan langkah penting bagi setiap pelari. Dengan memberikan waktu istirahat yang cukup dan tidak memaksakan diri saat tubuh mengirimkan sinyal nyeri, risiko cedera berkepanjangan dapat dikurangi sehingga aktivitas berlari tetap aman dan menyenangkan dalam jangka panjang.***
Editor : Alysa
Sumber : idntimes.com














