Pelabuhan Hodeidah Terbakar Usai Digempur Israel, Impor Pangan Yaman Terancam

0
Pelabuhan Hodeidah Terbakar

NARASITODAY.COM – Langit malam di atas Pelabuhan Hodeidah, Yaman, berubah menjadi arena pertempuran. Suara ledakan dan deru jet tempur memecah ketenangan, membuat kawasan pelabuhan yang biasanya sibuk berubah menjadi zona krisis.

Israel baru saja menggempur salah satu pelabuhan terpenting di Laut Merah tindakan yang langsung menggetarkan jalur logistik utama bagi warga sipil Yaman.

Serangan ini terjadi sebagai balasan atas rudal yang diluncurkan kelompok Houthi dan jatuh di dekat Bandara Internasional Ben Gurion, Israel, sehari sebelumnya. Dalam pernyataan resmi yang dirilis militer Israel, operasi ini menyasar sejumlah titik yang mereka sebut sebagai basis milisi.

“Dikarenakan serangan berulang yang dilakukan rezim teroris Houthi terhadap Negara Israel, termasuk peluncuran rudal permukaan ke permukaan dan pesawat tak berawak ke wilayah dan warga negara Israel,” bunyi pernyataan militer Israel, dikutip Reuters.

Menurut kantor berita Saba yang dikelola Houthi, sedikitnya satu orang tewas dan 35 lainnya terluka. Beberapa sumber menyebutkan bahwa area sekitar pelabuhan, termasuk pabrik semen dan gudang, harus segera ditutup pasca serangan.

Baca Juga :  Pesaing Baru di Pasar Headset MR, Vivo Vision Siap Diluncurkan 2025 Pesaing Baru di Pasar Headset MR, Vivo Vision Siap Diluncurkan 2025

Seorang pekerja pelabuhan yang sedang bertugas saat itu menyatakan bahwa seluruh aktivitas bongkar muat dihentikan. Bahkan, dua kapal yang tengah menurunkan muatan terpaksa menghentikan operasi darurat.

Kerusakan fisik di pelabuhan tak bisa diabaikan. Dua sumber menyebut bahwa sekitar 70% infrastruktur rusak mulai dari lima dermaga utama, gudang penyimpanan, hingga area bea cukai. Serangan ini bukan sekadar aksi militer: ini adalah hantaman keras terhadap aliran logistik dan ekonomi di negara yang bergantung pada pelabuhan ini untuk mengimpor sekitar 80% kebutuhan pangannya.

Houthi, kelompok bersenjata yang dikenal beraliansi dengan Iran, telah melancarkan serangan ke wilayah Israel dan kapal-kapal di Laut Merah sejak pecahnya konflik Israel-Hamas pada Oktober 2023. Mereka mengklaim bahwa setiap serangan adalah bentuk solidaritas terhadap Palestina.

Baca Juga :  Strategi Politik Trump Tunjukkan Kekerasan terhadap Rusia dan China di Tengah Ketegangan Global

Israel harus menunggu sesuatu yang tak terbayangkan sebagai balasan,” tulis Abdul Qader al-Mortada, pejabat senior Houthi, di platform X.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya telah bersumpah akan membalas setiap serangan yang berhasil lolos dari sistem pertahanan udara negaranya. Insiden rudal pada hari Minggu adalah serangan pertama sejak Maret yang mencapai wilayah daratan Israel tanpa dicegat.

Sementara itu, meskipun militer Amerika Serikat tidak ikut serta dalam operasi di Hodeidah, seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa terdapat koordinasi umum antara Washington dan Tel Aviv.

Dampak serangan terasa meluas. Perusahaan minyak yang dikelola Houthi melaporkan kesulitan menurunkan muatan bahan bakar di pelabuhan minyak Ras Isa. Mereka mengaktifkan sistem darurat untuk pengisian bahan bakar kendaraan, dan menuding serangan-serangan dari AS sebagai penyebab terganggunya distribusi energi.

Baca Juga :  Inggris Bentuk "FBI Inggris" untuk Tangani Kejahatan Terorganisir

Ini bukan pertama kalinya wilayah Yaman diserang dalam eskalasi regional. Maret lalu, Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan besar-besaran ke posisi Houthi, yang menewaskan ratusan orang. Namun sejak Desember, Israel relatif menahan diri hingga akhirnya pelabuhan Hodeidah menjadi sasaran.

Dalam perkembangan terkait, Israel juga dilaporkan telah menyetujui rencana untuk menguasai Jalur Gaza secara administratif, termasuk mengatur langsung penyaluran bantuan kemanusiaan.

Sejak pecahnya perang Israel-Hamas pada 7 Oktober 2023, lebih dari 52.000 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan di Gaza, menurut pejabat kesehatan lokal. Jumlah itu menyusul serangan awal Hamas yang menewaskan 1.200 warga Israel dan menyebabkan 251 orang disandera.

Di balik angka dan pernyataan resmi, Hodeidah kini menjadi simbol baru dari konflik yang semakin meluas di mana pelabuhan bukan lagi tempat datangnya kehidupan, melainkan titik rentan dari sebuah perang yang terus mencari bentuk balasan.***