Jerome Powell Tegaskan Mandat The Fed Fokus pada Inflasi dan Lapangan Kerja

0
The Fed
Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. Foto : vibiznews.com

NARASITODAY.COM – Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, menyampaikan bahwa dari tiga mandat yang diberikan oleh Kongres kepada bank sentral, dua di antaranya menjadi fokus utama dalam praktiknya.

Dalam konferensi pers usai pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (17/9/2025), Powell menjelaskan bahwa mandat untuk menjaga “suku bunga jangka panjang yang moderat” sebenarnya merupakan hasil dari dua tujuan utama: stabilitas inflasi dan pencapaian lapangan kerja maksimal.

“Kami percaya suku bunga jangka panjang yang moderat adalah hasil dari inflasi yang stabil, rendah, serta pencapaian lapangan kerja maksimal,” ujar Powell.

Baca Juga :  Kemendagri: Baru 44 Daerah yang Rutin Sidak Pasar, Pengendalian Inflasi Perlu Ditingkatkan

Ia juga menambahkan bahwa The Fed tidak lagi menganggap mandat ketiga sebagai instruksi yang berdiri sendiri dan memerlukan tindakan khusus.

Secara umum, kebijakan moneter The Fed berpusat pada pengaturan suku bunga acuan (federal funds rate) yang berdampak langsung pada pinjaman jangka pendek. Namun, pejabat The Fed menilai bahwa suku bunga jangka panjang lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal di luar kebijakan moneter, sehingga ruang intervensi menjadi terbatas.

Meski demikian, dalam dua dekade terakhir, The Fed sempat mengambil langkah berbeda melalui program quantitative easing (QE), terutama saat krisis keuangan 2007 dan pandemi COVID-19. Program ini melibatkan pembelian obligasi jangka panjang untuk menstabilkan pasar dan memberikan stimulus tambahan ketika suku bunga mendekati nol.

Baca Juga :  Inflasi Korea Selatan Sentuh Level Tertinggi dalam 2,5 Tahun, Suku Bunga BOK Diprediksi Naik Juli Ini

Melalui QE, The Fed berupaya menekan imbal hasil obligasi jangka panjang dengan menaikkan harga obligasi. Langkah ini dinilai sejalan dengan mandat ketiga, yakni menurunkan biaya pinjaman jangka panjang. Namun, efektivitasnya masih menjadi perdebatan.

Fed Governor Christopher Waller menyatakan, “Meski QE dapat menekan yield obligasi jangka panjang, efek stimulatifnya tidak sebesar penurunan suku bunga acuan.”

Kebijakan QE juga mendapat kritik politik karena dianggap menguntungkan pemerintah dengan menurunkan biaya pinjaman. Isu ini kembali mencuat seiring dengan kembalinya Donald Trump sebagai Presiden AS, yang secara terbuka mendorong pemangkasan suku bunga secara agresif.

Baca Juga :  Pasokan Wortel Terganggu Hujan Lebat, Inflasi Makanan Ikut Terpacu

Kehadiran Stephen Miran sebagai anggota baru Dewan Gubernur The Fed yang sebelumnya menjabat sebagai penasihat ekonomi di pemerintahan Trump menambah sorotan terhadap arah kebijakan bank sentral.

Menurut ekonom dari Mizuho, kehadiran Miran bisa memperkuat spekulasi bahwa mandat ketiga akan kembali menjadi perhatian, terutama dalam konteks normalisasi neraca keuangan yang telah dimulai sejak 2022 pasca program pembelian obligasi era pandemi.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber