NARASITODAY.COM, JAKARTA – Krisis penutupan pemerintahan Amerika Serikat yang telah berlangsung selama 36 hari mulai memberikan dampak signifikan terhadap industri penerbangan nasional.
Menteri Transportasi AS, Sean Duffy, mengumumkan bahwa pemerintah berencana mengurangi 10% jadwal penerbangan di 40 bandara utama mulai Jumat, jika kebuntuan politik di Kongres tidak segera diatasi.
Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mengurangi tekanan kerja pada para petugas pengatur lalu lintas udara yang tetap bertugas meski tidak menerima gaji. “Kami harus berpikir keras tentang apa sebenarnya tugas kami,” ujar Duffy seperti dikutip oleh Reuters, Kamis (6/11/2025).
Penutupan pemerintahan yang telah berlangsung lebih dari sebulan menyebabkan sekitar 13.000 pengatur lalu lintas udara dan 50.000 petugas Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) tetap bekerja tanpa bayaran. Akibatnya, terjadi kekurangan tenaga kerja, antrean panjang di pos pemeriksaan, dan penundaan penerbangan di berbagai wilayah.
Administrasi Penerbangan Federal (FAA) memperingatkan bahwa pembatasan tambahan bisa diterapkan setelah Jumat jika kondisi lalu lintas udara terus memburuk.
Duffy juga mengisyaratkan bahwa krisis ini bisa berkembang menjadi lebih parah. Ia menyatakan bahwa jika shutdown berlangsung satu minggu lagi, kemungkinan besar akan terjadi “kekacauan besar” dan bahkan bisa memaksanya untuk “menutup sebagian wilayah udara nasional untuk penerbangan,” sebuah tindakan drastis yang berpotensi melumpuhkan sektor penerbangan AS.
Maskapai besar seperti United Airlines dan American Airlines telah mendesak agar kebuntuan politik segera diselesaikan, mengingat risiko terhadap keselamatan penerbangan semakin meningkat. Kekhawatiran investor tercermin dari penurunan saham kedua maskapai tersebut sekitar 1% dalam perdagangan setelah jam bursa.
Kelompok industri penerbangan memperkirakan lebih dari 3,2 juta penumpang telah terdampak oleh penundaan dan pembatalan penerbangan sejak shutdown dimulai pada 1 Oktober. Banyak maskapai melaporkan peningkatan ketidakhadiran petugas pengatur lalu lintas udara, yang memaksa mereka melakukan penyesuaian jadwal.
Walaupun sebagian maskapai menyatakan dampak finansial belum terlalu terasa, mereka memperingatkan bahwa penjualan tiket bisa menurun drastis jika krisis ini terus berlanjut. Pada Rabu saja, lebih dari 2.100 penerbangan mengalami penundaan di seluruh negeri.
Administrator FAA, Bryan Bedford, menyebutkan bahwa antara 20% hingga 40% petugas pengatur lalu lintas udara di 30 bandara terbesar AS tidak masuk kerja. “Ketidakhadiran meningkat dari hari ke hari, dan tekanan terhadap sistem kami semakin berat,” ujarnya.
Kebuntuan politik yang memicu shutdown ini berasal dari perselisihan antara Partai Republik dan Partai Demokrat mengenai rancangan undang-undang pendanaan pemerintah. Demokrat menolak menyetujui anggaran tanpa perpanjangan subsidi asuransi kesehatan, sementara Partai Republik menolak tuntutan tersebut.
Tanpa adanya kesepakatan baru, ribuan pegawai federal akan terus bekerja tanpa bayaran, dan dampak ekonomi dari krisis ini kini mulai terasa dari ruang tunggu bandara hingga ke lantai bursa.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














