UNESCO dan Dunia Desak Pemberhentian Proyek Pariwisata Sinai yang Rusak Warisan Dunia

0
proyek pariwisata
Ilustrasi Gunung Sinai di Mesir. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, MESIR – Mega proyek pariwisata ambisius Mesir senilai hampir US$300 juta (sekitar Rp4,98 triliun) di Gunung Sinai selatan telah memicu krisis konservasi dan sosial yang serius. Proyek pembangunan infrastruktur besar-besaran ini dituduh merusak cagar alam dan situs Warisan Dunia UNESCO, serta mengancam kelangsungan Biara Saint Catherine, biara Kristen tertua di dunia yang masih berfungsi.

Proyek yang dikenal sebagai “Great Transfiguration” atau “Revelation of Saint Catherine” ini bertujuan untuk menarik pariwisata massal. Pembangunannya mencakup hotel bintang lima, seperti resor Steigenberger, pusat konferensi, dan ratusan unit perumahan, yang secara drastis mengubah lanskap kota.

Namun, laju pembangunan ini mendapat tentangan keras dari para ahli warisan budaya internasional dan penduduk lokal, terutama suku Badui Jabaliya.

Baca Juga :  Rudy Susmanto Minta Kades Gunung Picung Bangun Desa dengan Hati

John Grainger, mantan manajer proyek perlindungan Saint Catherine Uni Eropa, menegaskan bahwa apa yang terjadi adalah tindakan destruktif.

“Kita harus menyebut ini apa adanya, yaitu perusakan dan penghancuran situs tersebut,” kata Grainger, dikutip dari AFP, Jumat (5/12/2025).

Kekhawatiran ini telah diangkat ke tingkat global. Pada Juli lalu, World Heritage Watch mendesak UNESCO untuk mencantumkan area tersebut sebagai Situs Warisan Dunia dalam bahaya. Menanggapi situasi tersebut, UNESCO sendiri telah meminta Mesir pada tahun 2023 untuk menghentikan pelaksanaan proyek lebih lanjut, melakukan evaluasi dampak, dan mengembangkan rencana konservasi.

Baca Juga :  Tragedi Nataru! 16 Penumpang Bus Cahya Trans Tewas di Exit Krapyak

Meskipun ada desakan internasional, pemerintah Mesir menyatakan bahwa proyek ini sudah 90% selesai pada Januari.

Dampak proyek ini dirasakan langsung oleh masyarakat lokal. Komunitas Badui Jabaliya, yang telah lama mendiami wilayah tersebut, menjadi korban langsung.

Pada tahun 2022, buldoser dilaporkan meratakan pemakaman berusia berabad-abad milik komunitas Badui, memaksa penduduk untuk menggali ratusan jenazah kerabat mereka. Tragisnya, situs kuburan tersebut kini telah diubah menjadi tempat parkir mobil.

Biara Saint Catherine, yang merupakan inti dari situs Warisan Dunia tersebut, juga menghadapi ancaman eksistensial. Pada Mei, pengadilan Mesir memutuskan bahwa biara itu berada di atas tanah milik negara, dan para biarawan Ortodoks Yunani hanya “berhak untuk menggunakannya.”

Baca Juga :  Ketua Padepokan Buana Raksa Budaya: Pentingnya Payung Hukum untuk Masyarakat Adat di Era Digital

Keputusan ini memicu perselisihan diplomatik dengan Yunani dan menimbulkan kekhawatiran bahwa kelangsungan hidup biara kini bergantung pada niat baik pemerintah Mesir.

Kekhawatiran akan masa depan kawasan ini diungkapkan oleh seorang pemandu wisata lokal.

“Saint Catherine yang kami kenal sudah hilang… Mungkin mereka akan menyuruh kami keluar, bahwa tidak ada lagi ruang untuk kami,” ujarnya.

Proyek Great Transfiguration kini menjadi simbol konflik antara pembangunan ekonomi berbasis pariwisata massal dan perlindungan warisan budaya serta hak-hak komunitas adat.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com