Australia Hapus Jutaan Akun Medsos Anak, Dunia Mengamati Langkah Beraninya

0
Australia Hapus Jutaan Akun Medsos Anak: Jutaan Akun Anak Resmi Dihapus. Foto: Getty Images/iStockphoto/amenic181

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Australia memasuki babak baru dalam upaya melindungi anak dari risiko dunia digital. Pada 10 Desember, jutaan akun media sosial milik anak di bawah usia 16 tahun resmi dinonaktifkan setelah aturan pelarangan penggunaan media sosial bagi anak diberlakukan secara nasional.

Kebijakan ini menjadi yang pertama di dunia dan langsung menjadi sorotan global, mengingat skalanya yang besar dan dampaknya terhadap platform-platform raksasa seperti Instagram, TikTok, Snapchat, Facebook, YouTube, hingga X.

Baca Juga :  PM Singapura Lawrence Wong Pecat Pemimpin Oposisi Pritam Singh

Perdana Menteri Anthony Albanese menyebut hari itu sebagai momen penting bagi keluarga Australia. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan mengembalikan kendali orang tua atas keselamatan digital anak, meski ia mengakui prosesnya tidak akan mudah.

Sehari sebelum aturan berlaku, berbagai unggahan perpisahan berseliweran di media sosial. Banyak remaja Australia mengaku bingung dan cemas kehilangan cara berinteraksi yang selama ini menjadi bagian besar dari hidup mereka.

Di bawah aturan baru tersebut, platform diwajibkan menonaktifkan akun anak di bawah 16 tahun dan mencegah pembuatan akun baru. Jika gagal, perusahaan dapat dikenai denda hingga 49,5 juta dolar Australia. Setiap platform pun mengambil langkah berbeda — mulai dari penangguhan akun selama tiga tahun di Snapchat, hingga penonaktifan otomatis oleh TikTok dengan teknologi verifikasi usia.

Baca Juga :  Tim Garuda Berharap Hasil Positif di Laga Melawan Australia Sore Ini

Sementara itu, beberapa platform seperti Discord, Pinterest, Roblox, dan WhatsApp tidak termasuk dalam daftar larangan. Meski begitu, pengawasan tetap dilakukan karena perpindahan pengguna ke platform alternatif seperti Yope dan Lemon8 mulai terlihat.

Baca Juga :  Australia Temukan Kasus Baru Flu Burung H5N1, Pemerintah Tingkatkan Kewaspadaan

Komisaris eSafety, Julie Inman Grant, menyebut pihaknya akan memantau perubahan perilaku anak pasca pelarangan. Apakah mereka tidur lebih banyak? Apakah mereka lebih aktif di dunia nyata? Atau justru beralih ke ruang digital yang lebih berisiko?

Untuk menjawab itu, Australia bekerja sama dengan para ahli dari Universitas Stanford untuk mengumpulkan data jangka panjang dan mengevaluasi dampak kebijakan tersebut. (MG3)

 

Editor : Mutiara

Sumber : detikinet