NARASITODAY.COM, PARIS – Meja makan dan ruang bayi di ribuan rumah di Prancis kini diliputi kecemasan. Apa yang seharusnya menjadi asupan nutrisi paling murni bagi bayi, justru berubah menjadi mimpi buruk hukum dan kesehatan.
Jaksa Penuntut Umum Paris secara resmi telah membuka penyelidikan terhadap lima perusahaan produsen susu formula besar setelah gelombang penarikan produk (recall) mengguncang pasar global dalam beberapa pekan terakhir.
Langkah hukum ini diambil bukan tanpa alasan. Investigasi kini mengarah pada raksasa industri dunia Nestle, Danone, dan Lactalis serta merek khusus seperti Babybio dan La Marque en Moins. Mereka dituduh terlibat dalam kategori “penipuan terkait barang yang membahayakan kesehatan manusia”.
Ancaman di Balik Botol Susu
Pemicu utama skandal ini adalah dugaan kontaminasi cereulide, sebuah racun tahan panas yang dikenal jahat karena kemampuannya memicu gejala mual, muntah, hingga diare hebat pada bayi. Meski gejalanya sering mereda dalam sehari, bagi tubuh mungil seorang bayi, risiko komplikasi serius selalu mengintai.
Keseriusan kasus ini terlihat dari ancaman sanksi yang membayangi para petinggi industri. Jaksa Penuntut Paris menyatakan kasus ini bisa berujung pada hukuman maksimal tujuh tahun penjara dan denda fantastis hingga 3,75 juta euro.
Krisis ini sebenarnya mulai terendus sejak akhir tahun lalu. Menanggapi keresahan yang meluas, CEO Nestle, Philipp Navratil, sempat mengeluarkan pernyataan publik untuk menenangkan konsumen.
“Izinkan saya meyakinkan Anda bahwa keselamatan dan kesejahteraan Anda adalah prioritas utama kami,” ujarnya saat itu.
Namun, kata-kata tersebut tampaknya belum cukup meredam gejolak. Terlebih, Kementerian Kesehatan Prancis kini tengah mendalami tiga laporan kematian bayi yang diduga memiliki kaitan dengan konsumsi produk terkontaminasi tersebut.
Jejak Kontaminasi Global
Skandal ini tidak berhenti di perbatasan Prancis. Bak bola salju, dampak kontaminasi meluas ke lebih dari 60 negara. Nestle mengungkapkan bahwa jejak cereulide pertama kali ditemukan pada sejumlah batch produk di Belanda sejak awal Desember 2025.
Sumber masalah diduga berasal dari pemasok bahan baku minyak asam arakidonat (ARA)—zat penting untuk perkembangan otak bayi. Akibatnya, pada 10 Desember saja, sebanyak 25 produk di 16 negara Eropa langsung ditarik dari rak-rak toko.
“Dalam keterangan resmi tertanggal 29 Januari, Nestle mengungkap telah menemukan jejak cereulide pada sejumlah batch produk jadi di Belanda sejak awal Desember 2025,” tulis laporan tersebut.
Standardisasi yang Terlambat
Kasus ini mengungkap celah besar dalam regulasi pangan Eropa. Karena kontaminasi cereulide dianggap sebagai kasus langka, sebelumnya tidak ada standar yang terharmonisasi di tingkat Uni Eropa. Baru pada 2 Februari lalu, Otoritas Keamanan Pangan Eropa terburu-buru menetapkan ambang batas kadar toksin tersebut.
Di Inggris, otoritas kesehatan melaporkan sedikitnya 36 laporan klinis bayi dengan gejala keracunan. Kini, para orang tua di seluruh dunia terpaksa lebih waspada, membolak-balik label kemasan dan memeriksa daftar recall demi memastikan keselamatan buah hati mereka di tengah ketidakpastian reputasi para raksasa susu dunia.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














