Demonstrasi Anti-Pemerintah Meletus Lagi di Kampus-Kampus Iran, Bentrokan Pecah

0
Iran
Ilustrasi bendera Iran. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, TEHERAN – Pekik perlawanan kembali memecah kesunyian universitas-universitas di Iran. Pada Sabtu (21/2/2026), gelombang demonstrasi anti-pemerintah skala besar meletus untuk pertama kalinya sejak tindakan keras mematikan yang dilakukan otoritas keamanan pada Januari lalu.

Di bawah langit Teheran, suasana pendidikan berubah menjadi medan suarakan aspirasi. Rekaman video yang diverifikasi oleh BBC News memperlihatkan massa mahasiswa melakukan aksi berjalan kaki di lingkungan Universitas Teknologi Sharif. Namun, suasana damai itu tak bertahan lama saat bentrokan fisik pecah antara demonstran dan kelompok pendukung pemerintah.

“Matilah sang diktator,” teriak kerumunan massa yang menggema di antara bangunan kampus, sebuah seruan yang mencerminkan kemarahan mendalam atas kebijakan penguasa.

Baca Juga :  Dibekuk Saat Konsum Sabu, Pengemudi Solar Subsidi di Bogor Diduga Beroperasi Secara Ilegal

Penghormatan di Balik Jeruji Akademik

Aksi ini bukan sekadar protes politik, melainkan juga bentuk duka kolektif. Di berbagai sudut universitas di Teheran dan wilayah lainnya, para mahasiswa berkumpul untuk memberikan penghormatan kepada ribuan nyawa yang melayang di tangan aparat dalam kerusuhan bulan lalu.

Selain aksi massa, sentuhan perlawanan diam terlihat di Universitas Shahid Beheshti melalui aksi duduk damai. Sementara itu, di Universitas Teknologi Amir Kabir, mahasiswa berdiri teguh menentang kebijakan pemerintah meski harus berhadapan dengan kelompok pro-pemerintah yang mengibarkan bendera nasional Iran di lokasi yang sama.

Gelombang ini pun menjalar hingga ke Mashhad, kota terbesar kedua di Iran. Di sana, mahasiswa menuntut hak-hak dasar yang mereka anggap telah dirampas.

Baca Juga :  Paus Leo XIV Serukan Gencatan Senjata di Iran, Kecam Penggunaan Agama untuk Pembenaran Perang

“Kebebasan, kebebasan. Mahasiswa, berteriaklah, berteriaklah demi hak-hak kalian,” seru para mahasiswa di Mashhad dalam sebuah rekaman yang tersebar luas.

Data dari lembaga Human Rights Activists News Agency (Hrana) yang berbasis di AS melukiskan potret kelam: sedikitnya 7.015 orang tewas dalam gelombang protes sejak Januari, termasuk 6.508 pengunjuk rasa dan 226 anak-anak. Sebaliknya, otoritas Iran mengeklaim sebagian besar korban adalah personel keamanan atau warga sipil yang diserang “perusuh”.

Di tengah kekacauan domestik, ancaman dari luar negeri kian nyata. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan sedang mempertimbangkan serangan militer terbatas terkait kecurigaan pengembangan senjata nuklir Iran tuduhan yang dibantah keras oleh Teheran.

Baca Juga :  Trump Gandeng Elon Musk, Upayakan Starlink Tembus Pemadaman Internet di Iran

Trump, yang memiliki rekam jejak mendukung gerakan oposisi di Iran, memberikan isyarat kuat dalam pernyataannya:

“Bantuan sedang dalam perjalanan,” janji Trump kala itu, merujuk pada dukungannya terhadap para pengunjuk rasa.

Dunia kini menanti dalam ketegangan. Dalam waktu sekitar 10 hari ke depan, nasib Iran akan ditentukan yaitu apakah kesepakatan nuklir akan tercapai di meja diplomasi Swiss, ataukah dentuman meriam militer AS yang akan berbicara. Hingga berita ini diturunkan, aksi protes di berbagai universitas dilaporkan masih berlanjut.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com