NARASITODAY.COM, KYIV – Di bawah raungan sirene udara yang hampir saban malam menghiasi langit Ukraina, Presiden Volodymyr Zelenskyy tengah memainkan kartu diplomasi baru. Bukan sekadar meminta bantuan, Kyiv kini menawarkan “resep” pertahanan yang telah teruji di medan tempur: teknologi pelumpuh drone kamikaze buatan Iran.
Dalam keterangannya baru-baru ini, Zelenskyy mengungkapkan bahwa Ukraina telah mengirimkan tim ahli ke jantung Timur Tengah. Misi mereka jelas, yakni memberikan penilaian teknis dan mendemonstrasikan cara kerja sistem pertahanan drone kepada negara-negara yang kini dihantui ancaman serupa.
Misi Teknis, Bukan Militer
Zelenskyy mengonfirmasi bahwa tiga tim ahli telah mendarat di beberapa titik strategis, mulai dari Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, hingga pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania. Meski demikian, ia buru-buru menepis anggapan bahwa Ukraina sedang menyeret diri ke dalam konflik regional.
“Langkah ini tidak berarti Ukraina ikut terlibat dalam operasi militer di kawasan tersebut. Kami tidak sedang berperang dengan Iran, meskipun kami memberikan bantuan teknis terkait pertahanan drone,” tegas Zelenskyy.
Bagi Kyiv, bantuan ini adalah modal negosiasi. Ukraina mengincar imbalan konkret berupa pendanaan dan teknologi untuk menyokong napas perang mereka sendiri melawan Rusia. Mengingat negara-negara Teluk telah menguras banyak stok rudal pertahanan udara yang mahal untuk menjatuhkan drone Shahed, solusi Ukraina yang menggabungkan drone kecil murah dan perangkat pengacau sinyal (jamming) menjadi tawaran yang menggiurkan.
Teka-teki Kesepakatan dengan Washington
Namun, jalan diplomasi ini tak selamanya mulus. Di saat permintaan bantuan datang dari Eropa hingga Afrika, Zelenskyy justru menemui tembok di Washington. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa negaranya tidak membutuhkan bantuan Ukraina dalam menghadapi drone.
Hal ini menjadi ganjalan bagi rencana besar Kyiv. Zelenskyy mengaku masih belum mendapatkan jawaban mengapa kesepakatan teknologi drone senilai US$35 miliar hingga US$50 miliar yang ia dorong selama berbulan-bulan belum juga ditandatangani oleh Gedung Putih.
Diplomasi di Tengah Puing Perang
Di dalam negeri, Zelenskyy juga mengeluarkan peringatan keras terhadap pihak-pihak yang mencoba “bermain belakang.” Ia mengkritik sejumlah perusahaan domestik dan pemerintah asing yang berupaya membuat kesepakatan peralatan anti-drone tanpa lampu hijau dari Kyiv.
“Langkah tersebut dapat merugikan kepentingan nasional Ukraina,” ujarnya memperingatkan.
Sementara itu, meja perundingan damai yang melibatkan Rusia dan AS juga masih diselimuti ketidakpastian. Setelah rencana pertemuan di UEA batal akibat eskalasi serangan AS-Israel ke Iran dua minggu lalu, lokasi perundingan kini menjadi sengketa baru. AS mengusulkan pertemuan di Washington pekan depan, namun Rusia menolak keras lokasi tersebut.
Di garis depan, Zelenskyy membawa kabar optimis di tengah kepungan asap mesiu. Ia menyatakan bahwa rencana ofensif musim semi yang dipersiapkan Rusia kemungkinan besar telah gagal total. “Rusia sebelumnya menargetkan serangan besar itu sudah berjalan penuh pada periode ini,” pungkasnya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














