NARASITODAY. COM, BOGOR – Malam itu menjadi momen yang tak akan dilupakan Nanang (48). Warga asal Kabupaten Garut ini harus berpacu dengan waktu saat banjir tiba-tiba menerjang kontrakannya di Desa Renggasjajar, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Sabtu (18/4/2026).
Hujan yang semula turun biasa, disertai angin kencang, tak membuat Nanang menaruh curiga.
Namun situasi berubah drastis ketika air mulai merembes masuk dari celah pintu rumahnya di Kampung Lebak Wangi Pasar.
“Awalnya biasa saja, cuma hujan dan angin. Air mulai masuk sedikit dari bawah pintu, saya tutup pakai kain,” ujar Nanang saat ditemui di posko pengungsian, Minggu (19/4/2026).
Tak butuh waktu lama, debit air meningkat tajam. Dalam hitungan menit, air mengalir deras dan memenuhi ruangan.
Pintu rumah yang semula masih bisa dibuka mendadak macet, membuatnya terjebak di dalam.
Dalam kondisi panik, Nanang berusaha menyelamatkan diri.
Ia berpegangan pada kusen pintu, lalu memanjat ke bagian atas rumah demi menghindari genangan yang terus meninggi.
“Saya pegang kusen, terus naik. Saya bergelantungan sampai akhirnya bisa naik ke plafon,” tuturnya.
Upaya bertahan hidup itu tak mudah. Dengan tenaga yang tersisa, Nanang menjebol plafon rumahnya agar bisa naik ke atap. Dari sanalah ia bertahan, menunggu air surut.
Sekitar satu jam lamanya, ia berada di atas atap rumah seorang diri, di tengah derasnya arus banjir yang merendam permukiman.
“Sekitar magrib kejadiannya. Saya sendirian, bertahan di atas atap sampai kondisi agak aman,” katanya.
Meski berhasil selamat, Nanang mengaku mengalami kelelahan hebat. Bahkan, ia sempat tersengat listrik dua kali karena aliran listrik di rumahnya belum padam saat banjir datang.
“Sempat kesetrum karena lampu masih nyala. Badan juga sakit semua karena benturan saat naik,” ujarnya.
Banjir tersebut tak hanya mengancam nyawanya, tetapi juga menghilangkan hampir seluruh harta benda yang dimilikinya.
Sepeda motor, peralatan rumah tangga, hingga pakaian hanyut atau rusak terendam air. Ia hanya sempat menyelamatkan beberapa barang seadanya.
Nanang merupakan perantau asal Kampung Cileungsi, Desa Sekarwangi, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut. Ia tinggal seorang diri di Cigudeg untuk bekerja dan mencari nafkah.
Kini, setelah peristiwa itu, ia hanya bisa berharap ada bantuan untuk kembali memulai hidup dari awal, setelah semua yang dimilikinya hilang dalam sekejap.













