NARASITODAY.COM, LOS ANGELES – Langkah impresif Tim Nasional Spanyol di panggung Piala Dunia akan segera menemui ujian paling terjal. Pelatih La Roja, Luis de la Fuente, secara terbuka menyebut bahwa Belgia bakal menjadi lawan terberat yang dihadapi anak asuhnya sejauh ini saat kedua tim bentrok di babak perempat final pada Jumat (10/7/2026).
Spanyol melenggang ke babak delapan besar dengan catatan mentereng yaitu belum sekalipun kebobolan. Kolektivitas tim yang seimbang, penguasaan bola yang dominan, pertahanan sekokoh karang, serta lini serang yang tajam menjadi resep utama setelah sebelumnya mendepak Portugal dengan kemenangan tipis 1-0. Namun, De la Fuente emoh jemawa.
“Pertandingan besok akan menjadi yang paling sulit yang kami hadapi sejauh ini,” kata De la Fuente kepada wartawan di Stadion Los Angeles.
Di mata pelatih berusia 64 tahun tersebut, Belgia bukanlah lawan sembarangan. Skuad berjuluk The Red Devils itu dihuni oleh generasi berpengalaman yang menjadi pilar di berbagai klub elite Eropa.
“Belgia adalah tim yang sangat kuat. Mereka adalah pemain-pemain yang terbiasa meraih kemenangan. Ini akan menjadi pertandingan yang sangat menantang,” ujarnya.
Menepis Bayang-Bayang Prancis
Pemenang dari laga hidup-mati antara Spanyol dan Belgia ini sudah ditunggu oleh Prancis di babak semifinal pada Selasa (14/7/2026) mendatang. Les Bleus sendiri telah mengamankan tiket setelah menumbangkan Maroko 2-0 lewat aksi Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele.
Meski De la Fuente mengaku menyaksikan laga tersebut dan memuji performa apik Prancis, ia menegaskan enggan memikirkan langkah yang terlalu jauh.
“Percayalah, saat ini kami hanya memikirkan Belgia,” tegasnya.
Untuk membongkar tembok pertahanan Belgia, Spanyol kembali menggantungkan harapan pada kreativitas wonderkid Barcelona, Lamine Yamal, yang kini baru menginjak usia 18 tahun. Selain Yamal, ketajaman Mikel Oyarzabal yang sudah mengemas empat gol sepanjang turnamen juga akan menjadi senjata mematikan.
Yamal memang baru mengoleksi satu gol di Piala Dunia kali ini tertinggal jauh dari Lionel Messi dan Kylian Mbappe yang memimpin dengan delapan gol. Kendati demikian, De la Fuente sangat percaya pada magis sang pemain muda yang dinilai menunjukkan kedewasaan luar biasa, termasuk saat turun membantu pertahanan kala meredam Portugal.
“Saya yakin dia akan memberikan kontribusi besar di lini serang,” puji De la Fuente.
Menariknya, di balik taktik sepak bola modern Spanyol, De la Fuente membawa pendekatan filosofis ke dalam timnya. Ia menegaskan bahwa kekuatan utama Spanyol bukanlah pada kilau individu, melainkan pada kebersamaan yang solid.
Meminjam pemikiran bijak dari filsuf sekaligus Kaisar Romawi, Marcus Aurelius, De la Fuente menutup konferensi pers dengan sebuah analogi mendalam untuk menggambarkan komitmen anak asuhnya.
“Apa yang buruk bagi sarang lebah juga buruk bagi seekor lebah.”.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id














