Presiden Trump Tunjuk Utusan Khusus, Greenland Jadi Machiavelli Baru dalam Konflik Geopolitik Dunia

0
Ilustrasi Desa yang menghadap ke laut dengan gunung es. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, COPENHAGEN – Hamparan es Greenland yang tenang kini menjadi pusat badai diplomatik global. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi menunjuk Gubernur Louisiana, Jeff Landry, sebagai Utusan Khusus AS untuk Greenland. Langkah provokatif ini memicu kemarahan besar dari Denmark dan wilayah otonomnya, karena misi utama penunjukan tersebut adalah membawa pulau raksasa itu masuk ke bawah kedaulatan Negeri Paman Sam.

Respons keras datang langsung dari puncak kekuasaan di Copenhagen dan Nuuk. Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, bersama Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, mengeluarkan pernyataan bersama yang menghentak panggung internasional.

Bagi para pemimpin Nordik ini, ambisi ekspansi wilayah di abad ke-21 adalah sebuah anomali yang berbahaya. Mereka menegaskan bahwa kedaulatan sebuah bangsa bukanlah aset yang bisa dipindahtangankan begitu saja.

Baca Juga :  Jadwal dan Siaran Langsung Arema FC vs Persib Bandung di Liga 1

“Kami sudah mengatakannya dengan sangat jelas sebelumnya. Sekarang kami katakan lagi: Perbatasan nasional dan kedaulatan negara berakar pada hukum internasional. Anda tidak bisa mencaplok negara lain,” tegas kedua pemimpin tersebut dalam pernyataan resmi yang dikutip Guardian, Selasa (23/12/2025).

Meski ditolak mentah-mentah, Trump tetap pada pendiriannya. Melalui media sosial, sang Presiden memuji Jeff Landry sebagai sosok yang mampu menjaga keselamatan sekutu dan membawa perdamaian dunia melalui kendali AS atas Greenland.

“Jeff memahami betapa pentingnya Greenland bagi Keamanan Nasional kita, dan akan memajukan kepentingan negara kita demi keselamatan dan kelangsungan hidup sekutu kita, dan bahkan dunia,” tulis Trump.

Langkah AS ini mengirimkan gelombang kejut ke seluruh Eropa. Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Løkke Rasmussen, tidak menyembunyikan kegeramannya. Ia berencana segera memanggil Duta Besar AS, Ken Howery, untuk menuntut penjelasan atas apa yang ia anggap sebagai penghinaan diplomatik.

Baca Juga :  Wakil Bupati Bogor Jaro Ade Tegaskan 100 Hari Kerja Harus Selaras dengan Visi Misi dan Regulasi Pemerintah

“Saya sangat kecewa dengan penunjukan utusan khusus ini, dan sangat marah dengan pernyataan Landry yang kami anggap sama sekali tidak bisa diterima,” ujar Rasmussen.

Dukungan mengalir deras untuk Denmark. Uni Eropa, melalui Ursula von der Leyen dan António Costa, menyatakan solidaritas penuh terhadap integritas teritorial Greenland. Bahkan tetangga dekat seperti Swedia dan Norwegia memberikan dukungan 100 persen, memandang tindakan Trump sebagai ancaman nyata terhadap tatanan hukum dunia.

Greenland memang bukan sekadar hamparan salju. Secara strategis, wilayah ini adalah rute terpendek bagi rudal antara Rusia dan AS. Di tengah meningkatnya persaingan dengan China di Arktik, pulau berpenduduk 57.000 jiwa ini menjadi aset geopolitik yang sangat berharga.

Baca Juga :  Kastil Carbisdale, Cantik Namun Penuh Cerita Kelam dan Misteri

Namun, rakyat Greenland sendiri tampak enggan menjadi “bintang baru” di bendera AS. Meskipun banyak yang mendambakan kemerdekaan dari Denmark, jajak pendapat menunjukkan hampir tidak ada minat untuk bergabung dengan Amerika Serikat.

Anggota parlemen Denmark asal Greenland, Aaja Chemnitz, menegaskan bahwa letak keberatannya bukan pada diplomasi, melainkan pada misi pencaplokan tersebut. “Masalahnya bukan pada penunjukan utusan AS, tetapi tugas yang diberikan kepadanya untuk mengambil alih Greenland. Tidak ada keinginan seperti itu di sini,” tegasnya.

Kini, di tengah laporan intelijen pertahanan Denmark yang memperingatkan adanya tekanan ekonomi dan militer dari Washington, hubungan antara dua sekutu NATO ini berada di titik terendah, membeku sedingin es di kutub utara.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com