Thailand-Vietnam Terapkan WFH Hemat Energi Imbas Konflik Timur Tengah

0
konflik
Ilustrasi Danau Barat di Hanoi, ibu kota Vietnam.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, HANOI – Bayang-bayang konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran kini tak lagi sekadar berita mancanegara bagi warga Asia Tenggara. Dampaknya telah mendarat di depan pintu rumah mereka dalam bentuk lonjakan harga bahan bakar dan kebijakan penghematan energi yang drastis.

Dari jalanan sibuk di Bangkok hingga sudut-sudut kota Hanoi, pemerintah mulai menarik “rem darurat” untuk mengamankan cadangan energi nasional.

Pemerintah Thailand resmi menginstruksikan para pegawai negeri untuk bekerja dari rumah (work from home) guna menekan konsumsi energi. Tak hanya itu, bagi mereka yang tetap di kantor, kenyamanan pun sedikit dikurangi. Otoritas mewajibkan pengaturan suhu pendingin ruangan berada di angka 26 derajat Celsius.

Baca Juga :  Ryanair Siapkan Strategi Antisipasi Krisis Bahan Bakar Pesawat di Tengah Ketidakpastian Global

“Pemerintah ingin semua sektor menggunakan sumber daya secara bijak dan efektif,” bunyi pernyataan resmi pemerintah Thailand, sebagaimana dilansir AFP.

Selain menghentikan sementara ekspor minyak demi cadangan domestik, Bangkok juga mematok harga solar di angka 30 baht (sekitar US$0,94) per liter untuk melindungi sektor transportasi. Para pejabat pun kini dilarang melakukan perjalanan dinas ke luar negeri demi efisiensi anggaran energi.

Pemandangan kontras terjadi di Vietnam. Meski pemerintah telah menghapus bea masuk impor minyak sejak Senin lalu, harga bensin tanpa timbal tetap melonjak lebih dari 20% hanya dalam sepekan. Akibatnya, ribuan pengendara motor di Hanoi harus bersabar dalam antrean panjang di SPBU.

Baca Juga :  Rupiah Melemah ke Rp18.129 per Dolar AS, Pasar Waspadai Gejolak Timur Tengah

Pemerintah Vietnam pun kini gencar mengimbau warganya untuk meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke sepeda atau transportasi umum.

“Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi konsumsi bahan bakar,” tulis pernyataan resmi pemerintah Vietnam di situsnya, sembari mendorong perusahaan swasta untuk menerapkan sistem kerja jarak jauh.

Langkah paling radikal diambil oleh Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr. Melalui Surat Edaran Memorandum No. 114, ia menetapkan sistem kerja empat hari seminggu bagi kantor-kantor cabang eksekutif mulai 9 Maret.

Marcos menegaskan bahwa langkah ini adalah upaya nyata untuk menekan konsumsi BBM nasional di tengah volatilitas pasar global.

“Dari pihak pemerintah, mulai Senin, 9 Maret, kami akan menerapkan sementara sistem kerja empat hari seminggu di beberapa kantor cabang eksekutif. Ini tidak termasuk kantor-kantor yang menyediakan layanan darurat,” tegas Marcos dalam laporan Inquirer.

Baca Juga :  BPBD Ingatkan Penanganan Lanjutan Usai Dapur Rumah di Bogor Dilanda Angin Kencang

Tak berhenti di situ, Marcos memerintahkan penghematan yang terukur bagi seluruh instansi.

“Selain itu, saya mengarahkan semua instansi pemerintah untuk menghemat dan mengurangi konsumsi listrik serta pengeluaran bahan bakar minyak sebesar 10 hingga 20 persen,” tambahnya.

Langkah-langkah yang diambil oleh ketiga negara ini menunjukkan betapa rentannya kawasan Asia Tenggara terhadap gangguan jalur pasokan di Timur Tengah. Dengan harga minyak yang terus bergejolak, bekerja dari rumah dan mematikan AC bukan lagi sekadar tren pasca-pandemi, melainkan strategi pertahanan ekonomi di tengah situasi perang.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com