
NARASITODAY.COM, SINGAPURA – Langit di atas kawasan industri jurong biasanya dipenuhi kepulan uap putih dari cerobong-cerobong kilang yang bekerja 24 jam nonstop. Namun hari ini, denyut nadi industri petrokimia Asia itu melambat. Dari Singapura hingga Quanzhou, mesin-mesin raksasa mulai mendingin bukan karena perawatan rutin, melainkan karena pasokan “darah” industri minyak mentah dan nafta tersumbat di Selat Hormuz.
Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini secara nyata memukul sektor energi global. Laporan terbaru Reuters menyebutkan bahwa mayoritas pelaku industri di Asia, yang menggantungkan 60% kebutuhan naftanya pada Timur Tengah, terpaksa mengambil langkah darurat: memangkas produksi hingga menetapkan status force majeure.
Efek Domino dari Selat Hormuz
Terganggunya jalur distribusi di Selat Hormuz menjadi pemicu utama. Bagi industri petrokimia, gangguan ini adalah mimpi buruk logistik. Cadangan bahan baku biasanya hanya cukup untuk satu bulan, sementara menghidupkan kembali fasilitas seperti steam cracker memerlukan waktu hingga dua minggu.
Di China, raksasa energi Sinochem telah memangkas kapasitas produksi di kilang Quanzhou hingga 60%. Tak ketinggalan, Sinopec juga mengurangi produksi lebih dari 10% atau setara dengan 600.000–700.000 barel per hari. Kondisi serupa menimpa kerja sama Shell dan CNOOC di Huizhou yang berencana menutup fasilitas produksinya.
Status Darurat di Asia Tenggara
Dampak krisis ini juga menghantam jantung industri di Asia Tenggara. Di Malaysia, kilang Prefchem hasil kolaborasi Petronas dan Saudi Aramco terpaksa menghentikan operasional akibat nihilnya bahan baku. Sementara di Singapura, ExxonMobil menurunkan kapasitas produksinya secara drastis ke level 50%.
Di tanah air, produsen petrokimia nasional, Chandra Asri, secara resmi telah menetapkan kondisi force majeure untuk seluruh kontraknya. Langkah ini diambil karena ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah yang membuat perusahaan tidak lagi mampu memenuhi kewajiban produksi seperti biasa.
Peta Dampak di Asia Timur dan Selatan
Situasi tak kalah kritis terjadi di wilayah Asia lainnya:
- Jepang: Tingkat operasional kilang anjlok ke angka 69%. Raksasa seperti Mitsui dan Mitsubishi Chemicals mulai memangkas produksi etilena.
- Korea Selatan: Yeochun NCC resmi mengurangi output karena tersendatnya pasokan.
- India: Kilang Mangalore dilaporkan menghentikan sebagian operasionalnya.
- Bahrain: Bapco Energies menetapkan kondisi darurat setelah fasilitas mereka terkena serangan langsung.
Ancaman Inflasi Manufaktur
Para analis memperingatkan bahwa jika gangguan di jalur vital pengiriman minyak dunia ini berlanjut, dampaknya akan meluas melampaui sektor energi. Kenaikan harga bahan baku petrokimia akan memicu kenaikan harga barang konsumsi, mulai dari plastik, tekstil, hingga komponen otomotif.
Vietnam kini mulai mengambil langkah preventif dengan meminta prioritas pada pasokan minyak domestik demi menjaga ketahanan energi nasional. Namun, selama bara konflik di Timur Tengah belum padam, industri manufaktur di Asia tetap berada dalam bayang-bayang ketidakpastian yang bisa memicu tekanan ekonomi global lebih dalam.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber













