NARASITODAY.COM,GAZA – Di tengah puing-puing beton yang menjadi saksi bisu agresi panjang sejak Oktober 2023, sebuah dokumen setebal beberapa halaman kini menjadi pertaruhan baru bagi masa depan Palestina. Nickolay Mladenov, Direktur Jenderal Board of Peace (BoP), baru saja mengungkap cetak biru ambisius yaitu sebuah rencana delapan bulan untuk melucuti senjata Hamas dan faksi militer lainnya sebagai alat tukar bagi rekonstruksi Gaza.
Rencana ini bukan sekadar urusan teknis militer, melainkan sebuah pertukaran besar. Dalam dokumen yang diperoleh Al Jazeera, BoP mengusulkan skema timbal balik yang ketat. Hamas menyerahkan senjatanya, sementara Israel harus membuka keran bantuan kemanusiaan dan mengizinkan material bangunan masuk untuk membangun kembali wilayah yang telah rata dengan tanah.
Proses dekomisioning ini dirancang dalam beberapa fase yang sangat spesifik:
- Fase Pertama (Hari 1-14): Gencatan senjata total. Israel dan Hamas harus menghentikan operasi militer sepenuhnya. Di sini, sebuah Komite Nasional Palestina badan teknokratik di bawah naungan BoP akan masuk untuk mengambil alih tanggung jawab keamanan dan administrasi dari tangan Hamas.
- Fase Kedua (Hari 16-90): Ini adalah jantung dari rencana tersebut. Hamas dan faksi lainnya mulai menarik senjata berat. Mereka juga diwajibkan menghancurkan seluruh jaringan terowongan bawah tanah sebelum hari ke-90.
- Fase Akhir (Hingga Hari 251): Pasukan keamanan di bawah Komite Nasional akan menyelesaikan pengumpulan senjata. Jika berhasil, Israel akan menarik diri sepenuhnya ke perimeter Gaza.
Mladenov menegaskan urgensi rencana ini saat berbicara di depan Dewan Keamanan PBB, Rabu (25/3). Ia mendesak kelompok bersenjata untuk menerima kerangka kerja ini tanpa menunda-nunda lagi.
“Proses dekomisioning [senjata] berjalan paralel dengan penarikan bertahap,” ujar Mladenov dalam pidatonya.
Antara Harapan Rekonstruksi dan Bayang-bayang Pendudukan
Bagi warga Gaza, janji rekonstruksi adalah angin segar di tengah meroketnya harga kebutuhan pokok akibat blokade Israel. Namun, di tingkat akar rumput dan politik, rencana ini bak pil pahit. Para analis Palestina menyebut usulan ini sebagai bentuk “penyerahan politik” Hamas.
Hamas sendiri hingga kini tetap kokoh pada pendiriannya: tidak ada penyerahan senjata selama sepatu lars prajurit Israel masih menginjak tanah Gaza. Mereka menegaskan bahwa urusan senjata adalah masalah internal antar-faksi Palestina, bukan mandat yang bisa dipaksakan oleh pihak luar.
Apalagi, realita di lapangan masih mencekam. Pasukan Israel tetap mempertahankan kehadiran di luar “garis kuning” (zona penyangga), dan serangan-serangan kecil yang menewaskan warga sipil masih kerap terjadi meski status gencatan senjata sedang dibicarakan.
Ujian Bagi Komitmen Israel
Jika rencana ini berjalan mulus, kontrol dua dekade Hamas di Gaza akan berakhir. Sebagai imbalannya, Israel berkewajiban mencabut pembatasan terhadap “barang penggunaan ganda” seperti beton, baja, dan bahan bakar material yang selama ini dilarang masuk karena dikhawatirkan menjadi fasilitas militer.
Namun, pertanyaan besar tetap menggantung di atas langit Gaza: Apakah Israel benar-benar akan menarik diri? Sejarah panjang pelanggaran kesepakatan menjadi hantu yang membayangi proposal Mladenov. Tanpa jaminan keamanan yang nyata bagi warga sipil, rencana delapan bulan ini berisiko menjadi sekadar dokumen di atas meja perundingan, sementara warga Gaza tetap terjebak di antara reruntuhan dan ketidakpastian.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com














