NARASITODAY.COM, MERAUKEĀ – Di bawah terik matahari Papua Selatan, hamparan lahan pertanian dan hijau tebu kini tak sekadar menjadi simbol kesuburan tanah, melainkan tumpuan harapan baru bagi masyarakat setempat.
Pemerintah Provinsi Papua Selatan menegaskan bahwa seluruh Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tengah dikebut di wilayah ini sepenuhnya diarahkan untuk memutar roda ekonomi dan mengangkat kesejahteraan warga, khususnya Orang Asli Papua (OAP).
Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, menyampaikan bahwa proyek ketahanan pangan dan energi yang digulirkan pemerintah pusat adalah langkah nyata untuk menghadirkan kemakmuran yang selama ini dinanti masyarakat.
Agenda besar ini mencakup cetak sawah guna menyokong lumbung beras nasional, serta pengembangan perkebunan tebu raksasa yang terintegrasi langsung dengan industri bioetanol. Bagi pemprov, ini bukan sekadar urusan pembangunan fisik atau angka-angka statistik, melainkan solusi konkrit atas persoalan sosial yang mengakar.
Jembatan Kerja untuk Warga Lokal
Salah satu proyek yang kini sudah mulai berdenyut dan mengubah lanskap ekonomi daerah adalah industri tebu terintegrasi bioetanol. Proyek ini telah berhasil menyerap sekitar 3.500 tenaga kerja. Angka ini diproyeksikan akan melonjak tajam hingga 15.000 pekerja pada tahun 2027 mendatang seiring dengan perluasan kawasan industri.
Agar keringat dari pembangunan ini benar-benar menetes ke tanah pemukiman warga setempat, Pemprov Papua Selatan bersikap tegas kepada seluruh perusahaan pelaksana. Pemerintah daerah meminta adanya prioritas mutlak bagi anak-anak daerah dalam bursa kerja.
“Kami meminta agar sekitar 80% tenaga kerja berasal dari masyarakat lokal, sehingga manfaat pembangunan benar-benar dirasakan oleh masyarakat Papua Selatan,” ujar Apolo, Rabu (10/6/2026).
Menjaga Alam, Merawat Masa Depan
Pemerintah daerah tidak menampik adanya riak-riak perbedaan pandangan di tengah masyarakat terkait masifnya proyek nasional ini. Baginya, dinamika tersebut adalah ruang demokrasi yang wajar dalam sebuah pembangunan. Namun, ia berharap masyarakat tidak menelan informasi setengah-setengah dan bisa melihat dampak positifnya secara jernih serta objektif.
Di sisi lain, kekhawatiran warga terhadap kelestarian alam Papua yang kaya juga dijawab langsung oleh pemprov. Apolo memastikan bahwa buldozer dan modernisasi tidak akan merusak paru-paru hijau Papua Selatan. Setiap korporasi wajib tunduk pada analisis dampak lingkungan (Amdal) yang ketat dan berkelanjutan.
Prinsipnya jelas: eksploitasi ekonomi tidak boleh mengorbankan hak-hak adat dan kelestarian ekologi. Keduanya harus berjalan selaras agar masyarakat adat menjadi tuan rumah yang sejahtera di atas tanahnya sendiri.
“Pembangunan harus diukur dari meningkatnya taraf hidup masyarakat. Itu yang menjadi fokus utama kami,” tegas Apolo menutup penjelasannya.
Melalui integrasi pangan dan energi ini, Merauke dan sekitarnya tidak hanya bersiap menjadi benteng ketahanan nasional, tetapi juga sedang merajut mimpi baru; mengurangi angka pengangguran, menaikkan pendapatan dapur warga, dan menggenjot pertumbuhan ekonomi di beranda selatan Papua.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id














