NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan tengah menyiapkan kebijakan yang akan melarang impor perangkat inverter buatan luar negeri, terutama dari China. Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran Washington terhadap potensi ancaman keamanan siber yang dinilai dapat mengganggu jaringan listrik nasional.
Berdasarkan laporan Reuters, Rabu (1/7/2026), Komisi Komunikasi Federal Amerika Serikat (Federal Communications Commission/FCC) sedang menyusun rancangan aturan yang akan membatasi masuknya seluruh model inverter baru dari luar negeri. Regulasi tersebut diperkirakan dapat diterbitkan paling cepat pada akhir tahun ini.
Perangkat inverter merupakan komponen penting yang menghubungkan pembangkit listrik tenaga surya dan sistem penyimpanan energi berbasis baterai ke jaringan listrik. Pemerintah AS khawatir perangkat tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengakses atau mengganggu infrastruktur energi strategis.
Rencana pembatasan itu langsung mendapat penolakan dari Pemerintah China. Kedutaan Besar China di Washington menyebut rancangan kebijakan tersebut sebagai tindakan yang tidak adil terhadap perusahaan-perusahaan asal negaranya.
“Kami sangat menentang perluasan konsep keamanan nasional yang berlebihan dan penekanan yang tidak dapat dibenarkan terhadap perusahaan-perusahaan China,” tegas pihak Kedutaan Besar China sembari mendesak AS untuk menyediakan lingkungan bisnis yang adil dan non-diskriminatif.
Di dalam negeri, wacana pelarangan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah kalangan politik. Senator Partai Republik Tom Cotton menilai ketergantungan Amerika Serikat terhadap perangkat energi buatan China berpotensi mengancam keamanan nasional.
“Mengandalkan China untuk perangkat inverter menempatkan seluruh jaringan listrik kita dalam risiko. Saya mendukung penuh setiap upaya untuk melarang produk-produk berbahaya ini,” cetus Cotton dalam rilis resminya kepada Reuters pada hari Selasa (30/06/2026).
Kekhawatiran tersebut muncul karena China saat ini menjadi produsen inverter terbesar di dunia melalui sejumlah perusahaan besar, termasuk Sungrow Power Supply dan Huawei. Selain mendominasi pasar global, perangkat buatan China juga banyak digunakan dalam proyek pembangkit energi terbarukan di berbagai negara.
Sorotan terhadap keamanan inverter semakin menguat setelah investigasi pakar keamanan Amerika Serikat tahun lalu menemukan adanya perangkat komunikasi yang tidak tercantum dalam spesifikasi resmi pada beberapa inverter surya asal China yang terhubung dengan jaringan listrik utama.
CEO perusahaan keamanan energi SolarDefend, Uri Sadot, menilai isu tersebut kini menjadi perhatian bersama negara-negara Barat.
“Eropa dan Amerika mulai terbangun akan risiko kehilangan kendali kedaulatan atas sistem kekuasaan mereka sendiri melalui perangkat inverter,” ungkap Uri Sadot, CEO firma keamanan energi SolarDefend.
Rencana FCC juga dinilai menjadi bagian dari kebijakan Washington untuk memperketat pengawasan terhadap teknologi asal China setelah sebelumnya hubungan kedua negara sempat menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Langkah tersebut sejalan dengan komitmen negara-negara anggota G7 yang tengah berupaya mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok mineral kritis maupun teknologi dari China.
Sebelumnya, FCC juga telah menerapkan pembatasan serupa terhadap sejumlah produk teknologi asing, termasuk model inverter yang digunakan pada pesawat nirawak (drone) dan perangkat router internet melalui kebijakan yang diterbitkan pada Desember dan Maret lalu.
Mantan pejabat pemerintahan Trump yang pernah memimpin kampanye pembatasan jaringan telekomunikasi Huawei di Eropa, Robert Strayer, menilai meningkatnya perhatian Uni Eropa terhadap isu keamanan teknologi membuka peluang kerja sama yang lebih erat dengan Amerika Serikat.
“Ini adalah pertanda mereka (Eropa) mulai sadar dan saya pikir ini adalah draf momen yang sangat subur untuk kerja sama bilateral,” tandas Strayer mengomentari kekompakan baru AS-Eropa dalam menekan pengaruh teknologi Beijing.
Apabila rancangan aturan tersebut resmi diberlakukan, kebijakan itu diperkirakan akan semakin mempertegas persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China. Di sisi lain, industri energi terbarukan global juga berpotensi menghadapi tantangan baru akibat perubahan rantai pasok perangkat yang selama ini didominasi produsen asal China.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













