NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Ketegangan geopolitik yang menyelimuti Selat Taiwan, Washington dan Taipei memilih untuk mempertebal kerja sama ekonomi mereka. Amerika Serikat (AS) dan Taiwan resmi menandatangani perjanjian perdagangan ambisius yang secara drastis memangkas tarif impor sekaligus mengunci komitmen belanja besar-besaran dari Taipei hingga tahun 2029.
Perjanjian yang diumumkan oleh kantor Perwakilan Perdagangan AS (USTR) pada Kamis (12/2/2026) ini menandai babak baru dalam hubungan kedua negara. Langkah ini memformalkan penurunan tarif AS terhadap produk ekspor Taiwan dari yang semula 20% menjadi 15%, serta menghapus hampir seluruh hambatan tarif yang selama ini membebani produk-produk AS di pasar Taiwan.
Benteng Rantai Pasok Teknologi
Bagi Amerika Serikat, kesepakatan ini bukan sekadar soal angka, melainkan tentang keamanan strategis. Perwakilan Perdagangan AS, Jamieson Greer, menekankan bahwa langkah ini adalah kunci untuk mengamankan sektor-sektor vital.
“Perjanjian ini akan menghapus hambatan tarif dan non-tarif yang dihadapi ekspor AS ke Taiwan,” ujar Greer sebagaimana dikutip dari AFP. “Ini juga akan secara signifikan meningkatkan ketahanan rantai pasokan kita, khususnya di sektor teknologi tinggi.”
Greer menambahkan bahwa kesepakatan ini akan membuka pintu lebar bagi para petani, nelayan, serta produsen manufaktur AS untuk merambah pasar Taiwan dengan lebih kompetitif. “Ini membangun hubungan ekonomi jangka panjang kami dengan Taiwan,” tegasnya.
Belanja Besar Hingga 2029
Berdasarkan lembar fakta resmi USTR, Taiwan telah menjadwalkan kenaikan pembelian barang-barang dari Negeri Paman Sam dengan nilai yang fantastis hingga tahun 2029. Komitmen belanja ini mencakup:
- Gas Alam Cair dan Minyak Mentah: US$44,4 miliar (sekitar Rp741 triliun).
- Peralatan Listrik dan Jaringan: US$25,2 miliar (sekitar Rp421 triliun).
- Pesawat Sipil dan Mesinnya: US$15,2 miliar (sekitar Rp254 triliun).
Total komitmen belanja yang mencapai lebih dari Rp1.416 triliun ini menjadi sinyal kuat niat Taiwan untuk semakin mengintegrasikan ekonominya dengan Amerika Serikat.
Menanti Ketuk Palu di Taipei
Meski telah ditandatangani, jalan bagi efektivitas perjanjian ini masih menyisakan satu langkah krusial. Taiwan secara sukarela berkomitmen memangkas sebagian besar hambatan tarif dan memberikan akses pasar istimewa bagi produk industri dan pertanian AS. Namun, sesuai prosedur demokrasi, kesepakatan ini tetap harus mendapatkan persetujuan dari badan legislatif Taiwan sebelum resmi diberlakukan.
Langkah strategis ini dipandang luas sebagai upaya kedua negara untuk saling membentengi diri dari kerapuhan rantai pasokan global, sekaligus mengirimkan pesan kuat tentang soliditas hubungan ekonomi mereka di kawasan Asia-Pasifik yang kian dinamis.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














