Daya Beli Melemah dan Rupiah Tertekan, IKM Bertahan di Tengah Ancaman Penutupan Usaha

0
IKM
Ilustrasi Industri tekstil. Foto : Istock

NARASITODAY.COM,JAKARTA – Di sudut-sudut sentra konveksi rumahan, deru mesin jahit kini terdengar lirih di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik. Industri Kecil dan Menengah (IKM) tekstil di dalam negeri sedang berada di titik nadir akibat kombinasi fatal antara merosotnya daya beli masyarakat dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Meski ruang gerak untuk bertahan hidup kian sempit akibat lonjakan harga bahan baku, kalangan pengusaha mengklaim hingga saat ini mereka masih berjuang keras untuk menghindari opsi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap para pekerjanya.

Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB), Nandi Herdiaman, mengungkapkan bahwa para pelaku usaha kecil di sektor sandang saat ini sedang berada dalam fase menahan napas demi kelangsungan hidup usaha mereka.

“Hingga saat ini IKM belum melakukan PHK. Kami masih bertahan,” kata Nandi Herdiaman kepada CNBC Indonesia, Kamis (11/6/2026).

Baca Juga :  Usaha di Kawasan Puncak Kembali Beroperasi, Aliansi Masyarakat Bogor Selatan Kawal Komitmen Lingkungan

Tekanan berat yang dirasakan para pengrajin pakaian ini mulai terasa berantai sejak bara konflik geopolitik di Timur Tengah menyulut kenaikan harga berbagai komoditas pangan dan energi dunia.

Situasi domestik kian diperparah oleh kedigdayaan mata uang dolar AS yang sempat melesat menembus level Rp18.000/US$. Bagi industri konveksi lokal yang masih bergantung pada bahan baku yang sensitif terhadap kurs, kondisi ini laksana hantaman gada besar yang membuat biaya produksi membengkak tak terkendali.

“Sejak konflik Iran-Amerika, harga bahan baku sudah naik sampai 20%. Kondisi makin berat karena dolar sekarang menembus Rp18.000,” ujar Nandi membeberkan realitas pahit di lapangan.

Di tengah badai biaya produksi tersebut, para pelaku usaha kecil merasa dianaktirikan. Mereka berharap pemerintah tidak hanya sibuk bersolek menjaga indikator stabilitas makroekonomi di atas kertas, tetapi lupa mengaliri urat nadi perekonomian di sektor riil.

Baca Juga :  Fair Trade atau Gagal Total? Telisa Serukan Perombakan Ekosistem Usaha

Terlebih lagi, ancaman nyata yang mereka hadapi bukan cuma soal kurs, melainkan gempuran tanpa henti dari produk-produk pakaian impor murah yang menguasai pasar domestik dan menggerus daya saing produk lokal.

“Sudah saatnya pemerintah melakukan revitalisasi UMKM dan IKM secara serius. Kalau UMKM terus dihadapkan pada banjir barang impor murah, kami tidak akan kuat. Lama-lama bisa terjadi penutupan usaha,” tegas Nandi dengan nada getir.

Menanti Tiga Solusi Nyata Pemerintah

Ketahanan para pengusaha konveksi ini tentu memiliki batas akhir. Jika pemerintah terlambat mengintervensi pasar dan membiarkan ekosistem usaha kecil terus memburuk, maka benteng terakhir pertahanan mereka di sektor ketenagakerjaan dipastikan akan jebol, memicu gelombang pengangguran massal baru.

Baca Juga :  Mengapa Merawat Diri Lebih dari Sekadar Kecantikan? Inilah Jawabannya

“Tapi kalau pemerintah terlambat merespons dan tidak turun melihat kondisi lapangan, saya khawatir pengangguran akan makin bertambah,” ucap Nandi memperingatkan.

Guna mengantisipasi skenario terburuk tersebut, Nandi merumuskan tiga tuntutan konkret dan mendesak yang harus segera dieksekusi oleh pemerintah demi menyelamatkan sisa-sisa napas industri IKM nasional.

“Kuncinya pemerintah harus mau mendengar pelaku usaha kecil di bawah. Kami minta tiga hal nyata, pertama jaga pasar domestik agar produk lokal punya ruang tumbuh. Kedua, penegakan hukum dan pengawasan ketat di Bea Cukai supaya barang impor ilegal tidak membanjiri pasar. Ketiga, platform e-commerce harus berpihak ke produk lokal dan tegas melarang barang impor ilegal masuk lewat penjualan online,” pungkas Nandi menutup pernyataannya.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com