Jakarta Berisiko Banjir, Gubernur Pramono Anung Buka Opsi PJJ dan WFH

0
pendidikan
Ilustrasi anak sekolah yang sedang mengerjakan tugas. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Langit Jakarta yang terus dirundung mendung memaksa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengambil ancang-ancang darurat. Menghadapi risiko banjir akibat intensitas hujan yang menembus level ekstrem, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung resmi membuka opsi pemberlakuan bekerja dari rumah (work from home/WFH) dan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi para siswa.

Langkah ini disiapkan sebagai katup penyelamat untuk mengurangi mobilitas warga di tengah genangan yang mengintai jalan-jalan protokol dan permukiman ibu kota.

Pramono mengungkapkan bahwa pada akhir pekan lalu (18/1/2026), Jakarta sebenarnya telah dihantam hujan dengan curah di atas 250 mm. Beruntung, momen tersebut bertepatan dengan hari libur, sehingga kemacetan parah dan penumpukan warga dapat terhindarkan. Namun, ia tidak ingin mengambil risiko jika fenomena serupa terjadi pada hari kerja.

Baca Juga :  Keterlibatan Houthi Yaman dalam Konflik Iran Mengancam Keamanan Perdagangan Maritim Dunia

“Kalau memang akan terulang kembali, dan mudah-mudahan tidak ya, karena kemarin ketika curah hujan di hari Sabtu-Minggu, kebetulan kan lagi libur panjang. Sehingga tidak memerlukan work from home. Tetapi kalau kemudian ada indikasi seperti itu dan di hari biasa, saya akan memutuskan untuk dilakukan work from home, terutama untuk anak-anak didik kita,” tegas Pramono di Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Di balik opsi WFH, Jakarta sedang melakukan “perlawanan” teknis di lapangan. Pemprov DKI telah meluncurkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memecah awan sebelum masuk ke wilayah Jakarta. Selain itu, ribuan pompa air disiagakan untuk memastikan air segera kembali ke sungai atau laut.

Baca Juga :  Mousavi Desak Khamenei Mundur, Sebut Penindakan Demonstran sebagai “Kejahatan”

Pramono membandingkan kondisi Jakarta dengan wilayah lain di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa yang masih terendam. Ia mengeklaim bahwa infrastruktur pompa di Jakarta menjadi kunci mengapa genangan lebih cepat surut.

“Tetapi kenapa di Jakarta bisa cepat surut? Karena memang fasilitas pompanya cukup untuk melakukan itu. Walaupun, kalau kemudian curah hujannya rata-rata seperti hari Sabtu-Minggu di atas 250, itu pasti akan terjadi genangan banjir di mana-mana,” tuturnya.

Guna memastikan mesin-mesin penyedot air tetap menderu dan sungai-sungai tetap dikeruk, Pramono menegaskan tidak akan ada pemotongan anggaran untuk sektor penanggulangan cuaca ekstrem. Normalisasi sungai Ciliwung dan Krukut tetap menjadi prioritas utama.

“Hal yang berkaitan dengan penanganan cuaca buruk, normalisasi sungai seperti Ciliwung dan Krukut, termasuk pembelian pompa-pompa baru, saya tekankan tidak ada pengurangan anggaran,” tegasnya.

Baca Juga :  Hemat Energi, Malaysia Resmi Terapkan WFH bagi PNS Mulai 15 April

Data menunjukkan betapa “basahnya” Jakarta pada Minggu (18/1) lalu. Beberapa wilayah mencatatkan curah hujan kategori Ekstrem (>150 mm/hari), dengan titik tertinggi berada di Muara Angke (267 mm) dan Pasar Ikan (256 mm). Kawasan pemukiman padat seperti Pulomas (223 mm), Kelapa Gading (163,8 mm), dan Pantai Indah Kapuk (135,4 mm) juga tak luput dari guyuran hujan sangat lebat.

Dengan prakiraan cuaca yang masih fluktuatif, warga Jakarta kini diminta terus memantau informasi resmi dari BPBD DKI Jakarta, sementara pemerintah daerah bersiap menarik tuas kebijakan WFH jika alarm banjir kembali berbunyi di hari kerja.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com