NARASITODAY.COM, ABUJA – Di tengah hiruk-pikuk kota Abuja, jeritan masyarakat atas mahalnya biaya hidup mulai mendapat angin segar. Perang harga bahan bakar minyak (BBM) di Nigeria kini memasuki babak baru yang kian sengit.
Pemerintah setempat secara agresif mendesak para pelaku industri hilir untuk segera memangkas harga bensin di pompa-pompa bensin, seiring dengan anjloknya harga minyak mentah dunia. Jika biaya pasokan terus menyusut, harga BBM di negara kaya minyak tersebut diproyeksikan bisa merosot hingga di bawah 800 naira atau sekitar Rp10.400 per liter.
Menteri Negara Sumber Daya Minyak Nigeria, Heineken Lokpobiri, menilai ada anomali yang tidak adil bagi kantong masyarakat saat ini. Harga bensin di SPBU dinilai masih bertengger di level tinggi dan tidak lagi mencerminkan pergerakan kondisi pasar global yang sebenarnya.
“Pendapat saya adalah bahwa harga saat ini tidak mencerminkan biaya sebenarnya,” tegas Lokpobiri usai memimpin pertemuan darurat bersama regulator, pihak Kilang Dangote, dan para pelaku industri hilir di Abuja, seperti dikutip dari Business Insider Africa, Selasa (7/7/2026).
Lokpobiri membeberkan hitung-hitungan yang kontras. Ketika harga minyak mentah acuan Brent sempat melambung hingga US$118 (sekitar Rp2,11 juta) per barel, harga bensin domestik di Nigeria seketika ikut melesat naik. Namun, begitu Brent menukik tajam ke kisaran US$71 (sekitar Rp1,27 juta) per barel, harga di SPBU justru jalan di tempat.
“Ketika harga Brent mencapai US$118, harganya naik dengan cepat. Sekarang harganya turun drastis. Mengapa tidak turun dengan cara yang sama?” selorohnya mempertanyakan komitmen pelaku usaha.
Pemerintah memaklumi jika sebagian pengusaha masih menghabiskan stok lama yang dibeli dengan modal tinggi. Kendati demikian, pasokan anyar kini sudah didapat dengan ongkos yang jauh lebih murah.
Alasan itulah yang membuat pemerintah meminta Nigerian Midstream and Downstream Petroleum Regulatory Authority (NMDPRA) untuk memperketat taji pengawasan di pasar. Deregulasi sektor hilir ditegaskan harus melahirkan kompetisi yang sehat demi rakyat, bukan sekadar mempertebal margin keuntungan sepihak.
Sinyal Hijau dari Pemasar Independen
Gayung bersambut, sinyal penurunan harga mulai ditiupkan oleh pelaku industri. Pihak swasta mengaku tidak akan menahan harga jika jalurnya memang sudah mendesak untuk turun.
Presiden Independent Petroleum Marketers Association of Nigeria (IPMAN), Abubakar Shettima, menyatakan bahwa para pemasar independen siap memotong harga lebih ekstrem jika modal pasokan terus melandai.
“Kapan pun ada penurunan harga, kami siap menurunkan harga bahkan di bawah 800 naira, bahkan bukan 900 naira,” ungkap Shettima.
Sejauh ini, Shettima mengungkapkan bahwa pihaknya sudah memangkas harga bensin sekitar 125 naira (sekitar Rp1.625) per liter. Masuknya raksasa kilang lokal, Kilang Dangote, yang kini mulai menyuplai BBM langsung ke pemasar independen menjadi angin segar yang memotong rantai distribusi panjang dan memicu kompetisi harga yang ketat.
“Kami mencoba untuk mendorong kilang lokal kami,” tambahnya.
Di sisi lain, Kepala Eksekutif NMDPRA, Rabiu Umar, menjelaskan bahwa intervensi pemerintah yang mengumpulkan seluruh pemain kunci ini merupakan respons langsung atas gelombang protes masyarakat yang gerah melihat harga bensin tak kunjung turun.
Ia optimistis taktik kolaboratif ini akan sukses mengulang tren penurunan harga yang sebelumnya berhasil diterapkan pada pasar gas petroleum cair (LPG).
Jika pasokan dari Kilang Dangote terus membanjiri pasar dan biaya logistik menyusut, harga bensin di bawah Rp10.500 per liter bukan lagi sekadar impian.
Bagi masyarakat Nigeria, penurunan harga ini menjadi asa baru yang diharapkan mampu meredam laju inflasi, memangkas ongkos transportasi, serta mengembalikan daya beli yang sempat tercekik.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














